WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemulihan pasokan listrik di tiga kabupaten dataran tinggi Aceh masih menghadapi tantangan berat akibat keterbatasan akses dan kondisi geografis pascabencana banjir besar.
PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero mencatat, proses pemulihan di Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues belum sepenuhnya optimal karena distribusi material masih harus dilakukan melalui jalur udara.
Baca Juga:
AWaSI Jambi Peringati HUT ke-3 dengan Media Gathering dan Launching Program Kerja 2026 di Muaro Bungo
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, hingga saat ini evakuasi dan pengiriman material kelistrikan ke wilayah tersebut masih mengandalkan pesawat karena jalur darat belum sepenuhnya pulih.
“Untuk Aceh Tengah dan Bener Meriah, evakuasi material kami masih menggunakan udara,” ujar Darmawan dalam rapat bersama DPR RI, kementerian, dan lembaga yang disiarkan langsung melalui YouTube, dikutip Minggu (11/1/2026).
Darmawan menjelaskan, skala kerusakan sistem kelistrikan akibat banjir di Aceh kali ini sangat besar. Dampaknya bahkan melampaui bencana tsunami Aceh pada 2004.
Baca Juga:
Kerusakan Terparah Sepanjang Sejarah di Aceh, PLN Pulihkan 442 Titik Kelistrikan
“Saat tsunami, sistem kelistrikan yang rusak ada di delapan titik. Kali ini terdapat 442 titik yang terdampak,” katanya.
Meski demikian, PLN terus mencatat kemajuan pemulihan di tengah keterbatasan akses. Di Kabupaten Aceh Tengah, sebanyak 70,8 persen desa telah kembali menikmati aliran listrik.
Di Bener Meriah, listrik sudah menyala di 80,41 persen desa. Sementara di Kabupaten Gayo Lues, sekitar 70 persen desa telah kembali berlistrik.
Seiring mulai terbukanya jalur utama dari Langsa menuju Kutacane hingga Blangkenjeren, PLN mempercepat pengiriman material ke Gayo Lues.
Sebanyak 210 tiang listrik kini dalam perjalanan menuju lokasi terdampak. Sementara itu, untuk Aceh Tengah dan Bener Meriah, pengiriman 510 tiang listrik masih harus dilakukan menggunakan pesawat Hercules.
“Begitu akses darat memungkinkan, kami langsung percepat distribusi material agar pemulihan bisa lebih cepat,” ujar Darmawan.
PLN juga mencatat kondisi yang berbeda di sejumlah wilayah lain di Aceh. Di beberapa kabupaten, pemulihan listrik relatif cepat karena akses logistik lebih lancar, meskipun jumlah rumah pelanggan yang terdampak cukup besar.
Di Kabupaten Aceh Utara, misalnya, lebih dari 80 ribu rumah terdampak banjir, dengan 13 ribu rumah rusak berat. Meski demikian, perbaikan jaringan listrik dapat dilakukan lebih cepat.
Kondisi serupa juga terjadi di Aceh Tamiang, di mana dari 209 desa, hanya tujuh desa yang masih padam, namun jumlah rumah pelanggan terdampak mencapai lebih dari 38 ribu unit.
Darmawan menegaskan, perbedaan kecepatan pemulihan di tiap daerah sangat dipengaruhi oleh tingkat keparahan bencana dan kondisi akses menuju lokasi.
“Ada daerah yang listriknya cepat pulih, tapi rumah pelanggan yang terdampak sangat banyak. Ini dipengaruhi oleh kondisi saat bencana terjadi sejak akhir November lalu,” jelasnya.
Hingga kini, PLN memastikan upaya pemulihan terus dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan keselamatan petugas dan keandalan sistem, sembari menunggu normalisasi akses darat ke wilayah-wilayah dataran tinggi Aceh.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]