WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendesak Presiden Prabowo Subianto membatalkan rencana impor 105.000 kendaraan niaga senilai Rp 24,66 triliun dari India untuk mendukung operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), karena dinilai mengancam kelangsungan industri otomotif nasional, Minggu (22/02/2026).
Disampaikan Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kadin Indonesia Saleh Husin, impor mobil dalam bentuk utuh atau completely built up (CBU) berpotensi mematikan industri otomotif dalam negeri dan tidak memberi efek pengganda bagi perekonomian nasional.
Baca Juga:
Kemenperin Fasilitasi Delapan IKM Tampil di Inacraft 2026, Dorong Ekspansi Pasar Kerajinan Nasional
"Selain tidak sesuai dengan visi dan program kerja Presiden, perusahaan otomotif di dalam negeri menyatakan siap melayani permintaan KDKMP," ujarnya dalam keterangan resmi.
Ia menilai kebutuhan mobil pikap untuk KDKMP justru harus dijadikan momentum untuk memperkuat industri otomotif nasional yang selama ini telah dibangun dengan investasi besar dan dukungan rantai pasok luas.
Menurutnya, dampak impor CBU tidak hanya dirasakan oleh pabrikan perakitan kendaraan, tetapi juga menghantam industri komponen otomotif sebagai backward linkage yang menopang produksi kendaraan bermotor di Tanah Air.
Baca Juga:
Polres Tanjung Jabung Timur Libatkan TNI Dan Pol PP Lakukan Patroli Skala Besar, Jaga Kondusivitas Perayaan Imlek 2026 Tetap Aman
"Semakin kuat produksi komponen otomotif lokal, semakin tinggi pula tingkat komponen dalam negeri (TKDN), penyerapan tenaga kerja, dan efek pengganda terhadap perekonomian," papar Saleh.
Ia menegaskan, komponen seperti mesin, bodi, sasis, ban, aki, kursi hingga perangkat elektronik merupakan tulang punggung kekuatan rantai pasok otomotif nasional yang tak boleh dilemahkan oleh kebijakan impor kendaraan utuh.
Jika pasar domestik dibanjiri kendaraan impor CBU, lanjutnya, industri komponen nasional akan tertekan dan agenda hilirisasi serta industrialisasi yang sedang digenjot pemerintah bisa kehilangan arah.