Sebanyak 120 personel Bawah Kendali Operasi (BKO) didatangkan dari Sigli, Subulussalam, dan Banda Aceh, serta diperkuat 38 personel dari unit lokal. Sebelumnya, bantuan juga datang dari tim nasional yang berasal dari Riau, Sumatera Barat, Jawa Barat, hingga Jawa Timur.
Fadli menjelaskan, setelah pengamanan dan pengecekan gardu induk rampung, tantangan terbesar saat ini berada di rumah pelanggan.
Baca Juga:
Mobil Pajero Tabrak Pagar Mapolda Jambi, Pengemudi Positif Narkoba dan Miras
Endapan lumpur yang tebal membuat proses penormalan membutuhkan kehati-hatian ekstra agar instalasi listrik benar-benar aman saat dinyalakan kembali.
“Kami terus melakukan pendampingan kepada warga yang sudah kembali dari pengungsian. Setiap laporan akan kami tindak lanjuti dengan pengecekan langsung oleh petugas PLN, bukan sekadar menyalakan aliran listrik,” jelasnya.
Banjir kali ini berdampak hampir merata di Aceh Tamiang. Dari sekitar 74.000 pelanggan, kurang lebih 72.000 pelanggan terdampak banjir.
Baca Juga:
Menjemput Terang di Ujung Aceh, Kisah Perjuangan PLN ke Desa Terisolir
Hanya wilayah pegunungan dengan sekitar 2.000 pelanggan yang tidak mengalami gangguan kelistrikan.
Saat ini, PLN masih berupaya menormalkan pasokan listrik di enam desa terakhir yang sebelumnya padam. Setiap desa rata-rata memiliki 200 hingga 300 pelanggan.
PLN menargetkan pemulihan dapat segera mencapai 100 persen dengan tetap mengedepankan standar keselamatan.