WAHANANEWS.CO, Jakarta - PT PLN (Persero) terus memperkuat komitmennya dalam pengelolaan lingkungan melalui optimalisasi pemanfaatan Fly Ash Bottom Ash (FABA), yakni abu sisa pembakaran batu bara dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Upaya ini menjadi bagian penting dari penerapan prinsip Environment, Social, and Governance (ESG) yang dijalankan perusahaan secara konsisten dan berkelanjutan.
Baca Juga:
Konsumsi Listrik Nasional 2025 Tumbuh 3,75 Persen, PLN Catat Penjualan 317,69 TWh
Sepanjang tahun 2025, PLN Group mencatatkan capaian signifikan dengan memanfaatkan FABA hingga 3,44 juta ton atau setara 103,46 persen dari total produksi FABA tahun berjalan.
Angka tersebut menunjukkan keberhasilan PLN dalam mengelola residu pembangkitan secara optimal sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyampaikan bahwa pemanfaatan FABA kini telah bertransformasi dari sekadar pengelolaan limbah menjadi instrumen strategis untuk mendukung pembangunan berkelanjutan serta memperkuat ekonomi masyarakat di sekitar pembangkit.
Baca Juga:
Jakarta Electric PLN Mobile Libas Popsivo Polwan 3-0, Tutup Putaran Pertama di Peringkat Tiga
Pemanfaatan Fly Ash Bottom Ash (FABA) dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Indramayu untuk tetrapod yang berfungsi mencegah terjadinya abrasi dan memperkuat struktur pantai. Pemanfaatan FABA atau sisa pembakaran pembangkit listrik dapat mengurangi dampak lingkungan sesuai dengan prinsip Environment, Social, and Governance (ESG).
“PLN memandang FABA sebagai sumber daya yang memiliki nilai tambah. Pemanfaatannya tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, namun juga mendorong terciptanya lapangan kerja, memperkuat ekonomi lokal, serta mendukung pembangunan infrastruktur nasional,” ujar Darmawan.
Ia menambahkan, tren pemanfaatan FABA terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2025, pemanfaatan FABA tumbuh 2,44 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 3,40 juta ton.
Lebih lanjut, sejak tahun 2023, pengelolaan dan pemanfaatan FABA PLN menunjukkan perkembangan signifikan.
Seiring penetapan FABA sebagai limbah non-B3 dan meningkatnya serapan di berbagai sektor, volume timbunan FABA di ash yard PLTU pun terus menurun.
Pemanfaatan Fly Ash Bottom Ash (FABA) Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebagai pupuk silika yang dimanfaatkan masyarakat untuk pertaniannya.
“Kondisi ini menunjukkan pengelolaan FABA PLN semakin terintegrasi dan berkelanjutan, sekaligus memastikan tidak ada lagi penumpukan residu pembangkitan yang berpotensi berdampak pada lingkungan,” ujar Darmawan.
Dari sisi kontribusi terhadap mitigasi perubahan iklim, Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary Marimbo, menjelaskan bahwa pemanfaatan FABA juga berdampak langsung pada penurunan emisi gas rumah kaca.
Hingga Desember 2025, total pengurangan emisi yang dihasilkan mencapai 166.472 ton CO2, yang berasal dari pemanfaatan FABA sebagai substitusi semen, subgrade atau lapisan dasar jalan, beton pracetak, serta beton ready mix.
Selain mendukung sektor infrastruktur, FABA juga dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan lainnya, seperti penetralisir air asam tambang dan pembenah tanah yang berkontribusi pada peningkatan produktivitas sektor pertanian.
Warga Binaan Lapas Nusakambangan menjemur tumpukan batako yang baru saja selesai dicetak di Workshop FABA PLN. Melalui program pemberdayaan komunitas, FABA dimanfaatkan menjadi sumber daya yang potensial dalam pembangunan infrastruktur dan mendukung konsep sirkular ekonomi kerakyatan.
“Saat ini PLTU di lingkungan PLN Group telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 300 pemanfaat FABA, yang terdiri dari badan usaha berizin, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), pemerintah daerah, TNI/Polri, kelompok masyarakat, hingga lembaga pemasyarakatan di sekitar PLTU,” ujar Rizal.
Pemanfaatan FABA dalam skala industri dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai pelaku usaha nasional.
Salah satu implementasinya adalah pemanfaatan FABA sebagai bahan baku produksi semen jenis Portland Composite Cement (PCC).
“Kerja sama ini melibatkan 18 PLTU dan 15 pabrik semen nasional. FABA diambil langsung dari unit PLTU dan diangkut menuju fasilitas produksi pabrik semen menggunakan armada khusus,” ucap Rizal.
Di sektor pertambangan, PLN melalui PLTU Ombilin juga menjalin kolaborasi dengan perusahaan tambang di Sumatera Barat.
Hingga Desember 2025, sebanyak 251.406 ton FABA dari PLTU Ombilin telah dimanfaatkan sebagai bahan penetralisir air asam tambang.
Ilustrasi proses pencampuran (mixing) Fly Ash Bottom Ash (FABA) ke bahan baku semen untuk kemudian diolah menjadi berbagai produk konstruksi ramah lingkungan.
Tak hanya itu, PLN Group juga bekerja sama dengan 22 perusahaan batching plant yang memanfaatkan FABA dari 13 PLTU.
PLTU Tanjung Jati B tercatat sebagai unit dengan pemanfaatan terbesar dalam skema ini, dengan total mencapai 140.436 ton yang dimanfaatkan oleh lebih dari 15 perusahaan batching plant.
Rizal menuturkan, pemanfaatan FABA terus meluas ke berbagai sektor, termasuk sektor pertanian.
Pengembangan ini didukung oleh regulasi dan standardisasi nasional dari Pemerintah melalui Badan Standardisasi Nasional (BSN), salah satunya penerbitan Standar Nasional Indonesia (SNI) 9387:2025 tentang FABA sebagai pembenah tanah dan bahan baku pupuk.
“Dengan hadirnya SNI 9387:2025, kini pemanfaatan FABA semakin luas, aman, dan memiliki pedoman yang jelas. Ini membuka peluang baru, tidak hanya menjaga lingkungan dan menjadi solusi atas pengelolaan limbah, namun juga mendukung peningkatan produktivitas pertanian nasional secara berkelanjutan,” ujar Rizal.
Dalam rangka mendorong inovasi, PLN juga bekerja sama dengan Japan Carbon Frontier Organization (JCOAL) untuk mengembangkan Granulated Coal Ash (GCA), produk turunan FABA berbentuk butiran yang berpotensi digunakan sebagai penjernih air dan substitusi agregat kasar untuk pemulihan ekosistem perairan.
Tampak beberapa produk olahan Fly Ash Bottom Ash (FABA) Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) PLN Group, yakni kompos dan bio fertilizer.
Pada tahun ini, PLN merencanakan pelaksanaan uji coba dan implementasi lapangan di sungai bekerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane serta Dinas Lingkungan Hidup.
Ke depan, inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas air sungai yang mengalami penurunan akibat limpasan limbah pertanian, industri, dan domestik.
“Seluruh pembangkit PLN kini menjadi episentrum perbaikan lingkungan, sosial, dan kesejahteraan masyarakat. Kami ingin memastikan bahwa pembangkit PLN tidak hanya menyediakan listrik, tetapi juga menggerakkan ekonomi dan memberikan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan,” tutup Rizal. (Seremoadver).
[Redaktur: Ajat Sudrajat]