“Desa-desa yang masih padam berada di wilayah dengan tantangan geografis paling berat. Akses jalan di sejumlah lokasi terputus, rusak parah, atau bahkan hilang akibat banjir dan longsor, sehingga proses pemulihan membutuhkan waktu serta upaya ekstra. Namun, kami tidak menunggu. Kami terus bergerilya dan menyambung kembali listrik hingga titik terdalam Aceh,” tegas Darmawan.
Sebagai langkah antisipatif agar aktivitas masyarakat tetap berjalan, PLN memastikan 68 desa yang belum teraliri jaringan permanen tetap mendapatkan suplai listrik sementara melalui dukungan Program 1.000 Genset dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Baca Juga:
Bantuan Genset Nyalakan Kembali Aktivitas dan Ibadah Warga Pascabanjir Aceh
Kehadiran genset darurat ini menjadi solusi penting di tengah keterbatasan akses menuju wilayah terdampak.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Aceh, Eddi Saputra, menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam pemulihan saat ini adalah kerusakan infrastruktur jalan darat menuju desa-desa terisolir.
Tercatat terdapat 171 titik longsor yang menutup akses utama serta 14 jembatan rusak, sehingga mobilisasi alat berat dan material kelistrikan mengalami kendala serius.
Baca Juga:
Hunian Sementara Aceh Tamiang Terangi Harapan, Respons Cepat PLN Tuai Apresiasi
“Komitmen kami adalah pemulihan jaringan permanen secepat mungkin. Namun, keselamatan petugas dan kemampuan akses alat berat sangat bergantung pada kondisi infrastruktur jalan. Kami terus berkoordinasi dengan TNI, Polri, dan Pemda terkait upaya pembukaan akses di lapangan. Sambil berjalan, kami memastikan warga di 68 desa tersebut tetap teraliri listrik melalui backup genset yang telah kami siagakan bersama Kementerian ESDM,” ujar Eddi.
Lebih lanjut, Eddi merinci bahwa fokus utama tim saat ini berada di wilayah-wilayah yang masih terisolir.
Armada pengangkut material PLN berupaya melewati jalur penuh lumpur pascabencana banjir dan tanah longsor di Aceh. Kerusakan masif pada jembatan penghubung dan akses jalan nasional maupun provinsi menjadi tantangan utama dalam mobilisasi material kelistrikan menuju lokasi-lokasi terdampak.