WAHANANEWS.CO, Denpasar - Di sebuah warung sederhana di Pasar Ikan Kedongan, Kuta Selatan, Bali, seorang ibu pemilik warung dengan tegas mengusir sekelompok turis asing yang hanya membeli es teh dan nongkrong berjam-jam tanpa memesan makanan. Aksi ini viral di media sosial dan menuai beragam reaksi.
Ibu paruh baya tersebut menjelaskan bahwa ia sering melakukan tindakan ini karena turis-turis tersebut mengganggu pelanggan lain yang ingin makan di warungnya.
Baca Juga:
BMKG: Dalam Seminggu Bali Disambar 713 Petir
"Ya, saya usir mereka karena tidak membeli apa-apa, cuma duduk berjam-jam ngobrol. Itu mengganggu yang lain. Ini sudah biasa saya lakukan," ujarnya pada Jumat (14/2/2025).
Kejadian ini menjadi sorotan publik. Ya, Bali, yang dikenal sebagai destinasi wisata unggulan dengan fasilitas kelas dunia, kini banyak didatangi wisatawan dengan anggaran terbatas yang perilakunya tak sesuai dengan citra pariwisata Bali.
Mereka sering disebut sebagai wisatawan "receh" yang melakukan tindakan tidak terpuji, bahkan mengambil alih pekerjaan masyarakat lokal.
Baca Juga:
Kupang Bersiap, Cristiano Ronaldo Akan Mendarat di NTT untuk Misi Sosial
Bali yang dahulu dikenal dengan wajah ramah pariwisatanya kini semakin dicemari oleh turis yang bahkan hidup menggelandang di jalanan dan berperilaku tidak sopan.
Salah satu awak media yang menelusuri kejadian ini menemukan bahwa sekelompok turis asing di pasar ikan Kedongan hanya membeli beberapa buah dengan harga tawar yang sangat rendah.
“Ini adalah wajah pariwisata Bali, banyak turis asing seperti ini yang datang ke pasar tradisional dan sering menawar harga,” ujar Ibu Wayan, warga lokal, Kamis (13/2/2025).
Fenomena serupa terjadi di warung bakar ikan tak jauh dari pasar tersebut. Sebuah rombongan turis asing datang hanya untuk duduk nongkrong dan berbincang, sementara satu orang saja yang membeli ikan.
Lebih menyebalkan lagi, mereka membawa minuman dari luar, meski warung tersebut menyediakan minuman yang lengkap. Akhirnya, pemilik warung pun mengusir mereka karena merasa terganggu dengan perilaku tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pariwisata Bali membutuhkan perhatian serius.
Banyak turis dengan anggaran minim, yang dikenal sebagai turis "receh", menguasai kawasan wisata Bali, dan ini membutuhkan langkah konkret dari pemerintah dan pelaku pariwisata untuk menciptakan solusi.
Wayan Puspa Negara, Ketua Aliansi Pelaku Pariwisata Marginal Bali, mengungkapkan bahwa fenomena ini memang terjadi di Bali.
Di seluruh dunia, ada empat kategori turis: Backpacker, Midlelow, Midleup, dan Jetzet. Namun, di Bali, turis kategori Backpacker sudah menjadi langganan, dan jumlahnya terus meningkat.
“Jika ingin mengatasi masalah ini, Bali perlu seleksi wisatawan, seperti halnya yang dilakukan negara Bhutan yang membatasi jumlah turis. Bali harus menuju wisatawan berkualitas,” ujarnya.
Iryanti, seorang pengamat pariwisata, menanggapi maraknya turis bokek di Bali dengan menyatakan bahwa fenomena ini menunjukkan perlunya pembenahan dalam pengelolaan pariwisata Bali.
Menurutnya, Bali harus mulai fokus pada kualitas, bukan hanya kuantitas turis.
"Pariwisata Bali seharusnya menjadi cerminan dari kualitas wisatawan yang datang, bukan hanya berorientasi pada jumlah pengunjung. Wisatawan dengan anggaran terbatas, yang hanya menghabiskan sedikit uang dan berperilaku tidak sopan, justru merusak citra Bali sebagai destinasi premium," tuturnya.
Iryanti juga menyoroti pentingnya kebijakan yang lebih selektif dalam menarik wisatawan.
"Bali harus memperkenalkan regulasi yang lebih ketat, seperti yang diterapkan oleh negara lain yang telah berhasil mengelola pariwisata dengan bijak, sehingga turis yang datang benar-benar memberi manfaat untuk ekonomi lokal dan tidak justru menimbulkan masalah. Selain itu, edukasi bagi wisatawan juga harus diperkuat, agar mereka lebih menghargai budaya dan norma setempat."
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]