WAHANANEWS.CO, Jakarta - Bencana yang dipicu Topan Maysak tidak hanya menyebabkan banjir besar di wilayah Hengzhou, Guangxi Zhuang, China, tetapi juga mengakibatkan ratusan ular dari sebuah peternakan reptil terlepas ke lingkungan sekitar.
Sebagian besar ular yang lepas dilaporkan merupakan jenis berbisa sehingga meningkatkan ancaman bagi keselamatan warga yang terdampak banjir.
Baca Juga:
Cari Kerja Sesuai Keahlian Sulit, Fenomena ‘Anak Ekor Busuk’ Muncul di China
Seorang wanita dilaporkan meninggal dunia setelah digigit seekor ular yang diduga merupakan ular kobra.
Media pemerintah China juga melaporkan terdapat beberapa korban lain yang mengalami gigitan ular di tengah situasi banjir yang masih berlangsung.
Selain memicu kemunculan ular berbisa di kawasan permukiman, banjir akibat Topan Maysak juga menyebabkan sedikitnya 39 orang meninggal dunia.
Baca Juga:
Pilot Pesawat yang Tabrak Menara CITIC Diduga Bertindak karena Alasan Pribadi
Video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan sejumlah ular berenang di jalanan yang masih tergenang banjir.
Dalam rekaman tersebut terlihat kepala ular muncul di atas permukaan air saat bergerak di antara genangan yang menutupi jalan dan permukiman warga.
Pada awalnya, otoritas setempat dinilai meremehkan ancaman kemunculan ular tersebut sebelum akhirnya meningkatkan langkah antisipasi.
Pemerintah kemudian mengeluarkan peringatan kepada warga agar menjauhi ular-ular yang berkeliaran di wilayah terdampak banjir.
Tim penangkap ular telah diterjunkan ke sejumlah lokasi untuk mengurangi risiko terhadap masyarakat.
Persediaan antibisa juga ditambah sebagai langkah menghadapi kemungkinan meningkatnya kasus gigitan ular.
Rumah sakit di wilayah terdampak turut diminta bersiaga untuk menangani pasien yang mengalami gigitan ular berbisa.
Banjir juga menyebabkan sejumlah satwa lain melarikan diri dari kebun binatang yang ikut terendam.
Dua zebra, seekor lembu bungkuk, tiga kuda poni, dan dua keledai dilaporkan berkeliaran setelah berhasil keluar dari area kebun binatang.
Kebun Binatang Guigang yang dikelola pihak swasta kemudian mengeluarkan pemberitahuan darurat kepada masyarakat pada Rabu (8/7/2026).
Pihak pengelola memperingatkan bahwa beberapa satwa yang melarikan diri, termasuk burung unta, emu, dan rakun, berpotensi bersikap agresif ketika merasa terancam.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan satwa-satwa tersebut.
Pemilik Kebun Binatang Guigang, Yin Feifei, mengatakan para staf tetap berusaha mengamankan kandang hewan buas meskipun harus menghadapi derasnya banjir.
"Kami tidak dapat membiarkan predator melarikan diri selama banjir dan menciptakan risiko keselamatan publik tambahan," kata Yin Feifei.
Ia mengungkapkan tiga ekor singa dilaporkan mati tenggelam ketika banjir melanda kawasan kebun binatang.
Media lokal Shangyou News juga melaporkan lebih dari 16.000 ekor babi hanyut akibat banjir besar tersebut.
Dalam sejumlah video yang beredar, alat berat terlihat digunakan untuk mengangkat bangkai babi dari genangan banjir sebagai bagian dari upaya penanganan pascabencana.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]