WAHANANEWS.CO - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memicu kontroversi setelah melontarkan serangan keras kepada Paus Leo XIV dan menuding pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu membahayakan umat karena dianggap mendukung Iran memiliki senjata nuklir.
Mengutip laporan The Guardian pada Selasa (05/05/2026), pernyataan kontroversial itu muncul dua hari sebelum Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan bertemu dengan Paus Leo XIV di Vatikan dalam upaya meredakan ketegangan usai Trump sebelumnya mengecam Paus asal Chicago tersebut terkait kritik terhadap perang AS-Israel melawan Iran.
Baca Juga:
MRT Jakarta Belajar ke Shenzhen, MARTABAT Prabowo-Gibran: Aglomerasi Jabodetabekjur Harus Terhubung Total
"Paus lebih suka berbicara tentang fakta bahwa Iran boleh memiliki senjata nuklir, dan menurut saya itu tidak terlalu bagus. Saya pikir dia membahayakan banyak umat Katolik dan banyak orang," ujar Trump dalam wawancara bersama pembawa acara radio konservatif Hugh Hewitt di jaringan Salem News.
Trump kembali menegaskan keyakinannya bahwa Paus Leo XIV akan membiarkan Iran mengembangkan senjata nuklir apabila keputusan berada di tangan Vatikan.
"Tetapi saya rasa jika terserah Paus, dia pikir tidak apa-apa bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir," tegas Trump.
Baca Juga:
Tambah Daya PLN Tembus 22 Juta VA di Jatim, ALPERKLINAS: Energi Andal Jadi Fondasi Produktivitas Nasional
Meski demikian, Paus Leo XIV sejatinya tidak pernah menyatakan dukungan agar Iran memiliki senjata nuklir, namun sang Pontiff berulang kali menyampaikan penolakan terhadap perang di Iran serta eskalasi konflik di Lebanon dan kawasan Timur Tengah sambil menyerukan gencatan senjata dan dialog damai.
Di tengah memanasnya hubungan tersebut, Duta Besar AS untuk Takhta Suci Brian Burch pada Selasa (05/05/2026) menyebut pertemuan antara Rubio dan Paus Leo XIV di Istana Apostolik pada Kamis pagi diperkirakan berlangsung terbuka dan penuh kejujuran.
"Bangsa-bangsa memiliki ketidaksepakatan, dan saya pikir salah satu cara Anda menyelesaikannya adalah melalui persaudaraan dan dialog otentik. Saya pikir Rubio datang ke Vatikan dalam semangat itu, untuk melakukan percakapan jujur tentang kebijakan AS, untuk terlibat dalam dialog," kata Burch kepada wartawan.
Burch juga membantah adanya keretakan serius antara Amerika Serikat dan Vatikan serta menegaskan kunjungan Rubio yang bertepatan dengan satu tahun masa kepausan Leo XIV bertujuan memperkuat pemahaman kedua pihak atas berbagai perbedaan kebijakan.
Sementara itu, Rubio turut menepis anggapan bahwa kunjungannya ke Vatikan hanya untuk memperbaiki hubungan antara Trump dan Paus Leo XIV.
"Ini adalah perjalanan yang sudah kami rencanakan sebelumnya, dan jelas kami memiliki beberapa hal yang terjadi dan tidak, lihat, ada banyak hal yang perlu dibicarakan dengan Vatikan," tutur Rubio.
Selain agenda di Vatikan, Rubio juga disebut membawa misi memperbaiki hubungan dengan pemerintah Italia setelah Trump mengecam Perdana Menteri Giorgia Meloni karena membela Paus Leo XIV dan menolak mendukung serangan terhadap Iran.
Sikap Meloni itu bahkan sempat memicu ancaman Trump untuk menarik pasukan AS dari Italia meski sebelumnya pemimpin Italia tersebut dikenal sebagai salah satu sekutu dekat Trump di Eropa.
Wakil Presiden AS JD Vance yang juga seorang mualaf Katolik ikut melontarkan kritik terhadap Paus Leo XIV dan meminta Vatikan fokus pada isu moralitas ketimbang terlibat dalam perdebatan perang.
"Vatikan harus tetap berpegang pada masalah moralitas dan Paus Leo harus berhati-hati ketika berbicara tentang teologi dan perang," pungkas Vance.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]