WAHANANEWS.CO, Jakarta - Sejumlah bencana hidrometeorologi melanda berbagai wilayah Indonesia dalam sepekan terakhir, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir, hingga angin kencang.
Peristiwa ini menyebabkan ribuan warga terdampak dan memicu respons cepat dari pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Baca Juga:
264 Huntara Rampung di Seunuddon, Pemulihan Ekonomi Masuk Tahap Berikutnya
Kebakaran hutan dan lahan terjadi di Desa Pemuka, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh pada Rabu (25/2/2026) sekitar pukul 10.30 waktu setempat.
Lahan perkebunan seluas kurang lebih 30 hektare dilaporkan terbakar. Penyebab kebakaran di lahan yang dikelola pihak swasta tersebut masih dalam penyelidikan.
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di wilayah Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh, Rabu (25/2/2026). [Sumber foto : BPBD Kabupaten Aceh Singkil]
Baca Juga:
BNPB Salurkan Bantuan untuk Penghuni Huntara Korban Banjir dan Longsor di Aceh Timur
BPBD Kabupaten Aceh Singkil menurunkan personel untuk melakukan pemadaman dengan mengerahkan tiga unit mesin alkon dan alat suntik gambut.
Hingga Kamis (26/2/2026), proses pemadaman masih berlangsung di lokasi kejadian.
Peristiwa serupa juga terjadi di Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Kebakaran terdeteksi di sisi jalan trans Desa Labuan Donggulu, Kecamatan Kasimbar, pada Rabu malam (25/2/2026).
Karhutla melanda area perkebunan warga di wilayah Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, Rabu (25/2/2026). [Sumber foto : BPBD Kabupaten Parigi Moutong]
Angin kencang mempercepat penjalaran api ke area perkebunan warga.
Hasil kaji cepat sementara BPBD Kabupaten Parigi Moutong mencatat luas lahan terbakar mencapai sekitar 2,5 hektare dan berpotensi meluas.
Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, pemadam kebakaran, aparat desa, dan masyarakat melakukan pemadaman serta pemantauan titik api. Hingga Kamis (26/2/2026), upaya pemadaman masih terus dilakukan.
Karhutla melanda area perkebunan warga di wilayah Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, Rabu (25/2/2026). [Sumber foto : BPBD Kabupaten Parigi Moutong]
Sementara itu, banjir akibat hujan deras melanda Desa Tanak Awu, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Kamis (26/2/2026) pukul 06.30 waktu setempat. Sebanyak 150 unit rumah warga terdampak banjir.
BPBD Provinsi NTB melaporkan banjir dipicu curah hujan tinggi sejak pagi hari.
BPBD Kabupaten Lombok Tengah telah melakukan asesmen serta menyalurkan bantuan logistik kepada warga terdampak dan mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi bencana susulan.
Kondisi rumah warga yang terdampak banjir di Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kamis (26/2/2026). [Sumber foto : BPBD Kabupaten Lombok Tengah]
Pemerintah Provinsi NTB sebelumnya telah menetapkan status tanggap darurat banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem selama 90 hari, terhitung sejak 19 Januari hingga 18 April 2026, guna mempercepat penanganan bencana hidrometeorologi di wilayah tersebut.
Di Provinsi Kalimantan Utara, banjir merendam sepuluh kecamatan di Kabupaten Nunukan sejak Selasa (24/2/2026) malam.
Kecamatan terdampak meliputi Lumbis Hulu, Lumbis Pensiangan, Lumbis Ogong, Lumbis, Sembakung Atulai, Sembakung, Krayan, Krayan Timur, Krayan Barat, dan Sebuku.
Banjir berdampak pada 4.033 kepala keluarga atau lebih dari 12 ribu jiwa. Sebanyak 30 orang mengungsi di Pos BPBD Kecamatan Lumbis.
Selain permukiman, banjir juga merendam 10 homestay, dua fasilitas pendidikan, satu fasilitas umum, serta satu tiang PLN.
Ketinggian air dilaporkan mencapai satu hingga tiga meter, sehingga menghambat mobilitas warga.
Hingga Kamis (26/2/2026), tinggi muka air di sejumlah kecamatan dilaporkan masih meningkat akibat hujan yang terus turun.
Kondisi rumah warga yang terdampak banjir di Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kamis (26/2/2026). [Sumber foto : BPBD Kabupaten Lombok Tengah]
Banjir juga terjadi di Kabupaten Malinau akibat luapan Sungai Malinau, Sungai Mentarang, dan Sungai Sesayap.
Peristiwa ini berdampak pada sejumlah desa di Kecamatan Mentarang, Malinau Kota, Malinau Barat, dan Malinau Utara.
Hasil kaji cepat sementara mencatat satu balita meninggal dunia akibat terseret arus banjir. Pendataan jumlah warga terdampak masih dilakukan BPBD setempat.
Aktivitas ekonomi dan pendidikan warga turut terganggu karena akses jalan utama tidak dapat dilalui kendaraan.
BPBD Provinsi Kalimantan Utara bersama BPBD Kabupaten Malinau melakukan evakuasi warga menggunakan perahu serta menyalurkan bantuan kebutuhan dasar.
Di Jawa Timur, angin kencang menerjang Desa Banmelang, Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep, pada Kamis (26/2/2026) pukul 07.00 waktu setempat.
Peristiwa ini mengakibatkan satu rumah rusak berat, satu rumah rusak sedang, dan 14 rumah rusak ringan, terutama pada bagian atap dan dinding.
BPBD Kabupaten Sumenep berkoordinasi dengan pihak kecamatan untuk melakukan asesmen lanjutan serta penyaluran bantuan kepada warga terdampak.
Menghadapi potensi cuaca ekstrem, hujan dengan intensitas sedang hingga ekstrem diperkirakan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan. Kondisi ini meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
Apabila terjadi hujan lebat lebih dari satu jam, warga diminta melakukan evakuasi mandiri ke tempat yang lebih aman serta menghindari pepohonan, tiang, dan bangunan yang rawan roboh saat angin kencang.
Untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan, masyarakat juga diingatkan agar tidak membakar sampah maupun membuang puntung rokok di area yang mudah terbakar.
Jika muncul asap akibat kebakaran, warga disarankan menggunakan masker guna melindungi kesehatan pernapasan.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]