WAHANANEWS.CO, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana alam yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia dalam kurun waktu 24 jam terakhir.
Data tersebut dihimpun berdasarkan hasil pemantauan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB hingga Rabu (14/1/2026) pukul 07.00 WIB.
Baca Juga:
BNPB Percepat Pembangunan 2.299 Huntara untuk Warga Terdampak Bencana di Aceh Tamiang
Peristiwa bencana pertama yang dilaporkan adalah banjir di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan, yang terjadi pada Selasa (13/1/2026).
Banjir tersebut berdampak signifikan terhadap 3.656 kepala keluarga. Hingga saat ini, sebanyak 3.656 unit rumah di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Lempuing, Lempuing Jaya, dan Mesuji, masih terendam air dengan ketinggian berkisar antara 20 hingga 60 sentimeter.
Upaya penanganan darurat masih terus dilakukan oleh pihak terkait di lapangan. Wilayah ini masih berada dalam status Siaga Darurat Provinsi yang ditetapkan hingga 30 April 2026.
Baca Juga:
Pembangunan Huntara dan Huntap Berjalan Paralel, Pemulihan Sumut Masuki Tahap Lanjutan
Selain Sumatera Selatan, banjir juga dilaporkan melanda Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, pada Senin (12/1/2026).
Banjir merendam permukiman warga di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, dipicu hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi pada Senin (12/1/2026) [Sumber: BPBD Kabupaten Bogor].
Kejadian tersebut terjadi di Desa Cibunar, Kecamatan Parung Panjang. Dampaknya dirasakan oleh 190 kepala keluarga atau sekitar 588 jiwa, dengan 14 kepala keluarga di antaranya terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Sebanyak 190 unit rumah terdampak akibat genangan air. Berdasarkan laporan terkini, kondisi banjir di wilayah tersebut mulai berangsur surut.
Secara umum, Provinsi Jawa Barat masih berstatus Siaga Darurat Provinsi hingga 30 April 2026.
Sementara itu, fenomena cuaca ekstrem juga terjadi di Provinsi Banten, tepatnya di Kota Serang, pada Minggu (11/1/2026).
Cuaca ekstrem tersebut melanda delapan kelurahan yang tersebar di enam kecamatan. BNPB mencatat sebanyak 17 kepala keluarga atau 75 jiwa terdampak, dengan 17 unit rumah mengalami kerusakan.
Kondisi banjir yang melanda wilayah Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, pada Senin (12/1/2026) [Foto: BPBD Kabupaten Pandeglang].
Penanganan awal telah dilakukan, terutama pembersihan pohon tumbang yang menghambat aktivitas warga.
Namun demikian, rumah-rumah yang mengalami kerusakan hingga kini belum dilakukan perbaikan oleh pemilik. Status Siaga Darurat Provinsi di wilayah Banten berlaku hingga 19 Maret 2026.
Cuaca ekstrem juga melanda Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya di Kabupaten Bantul, pada Senin (12/1/2026). Peristiwa ini terjadi di 15 desa yang berada di delapan kecamatan.
Dampak yang ditimbulkan meliputi kerusakan pada 14 unit rumah milik 14 kepala keluarga, satu tempat ibadah, serta satu kandang ternak.
Selain itu, sembilan akses jalan dan sembilan jaringan listrik turut terdampak akibat kejadian tersebut.
Penanganan di Kabupaten Bantul telah dilakukan melalui pembersihan pohon tumbang di sejumlah lokasi serta pendistribusian bantuan terpal kepada warga terdampak.
Kegiatan ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) di tingkat kelurahan. Status Siaga Darurat di wilayah ini ditetapkan hingga 23 Mei 2026.
Kejadian bencana lainnya terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya di Kabupaten Lombok Barat, pada Senin (12/1/2026).
Banjir yang melanda wilayah tersebut berdampak pada 570 kepala keluarga atau sekitar 1.711 jiwa. Sebanyak 570 unit rumah dilaporkan terdampak banjir.
Hingga laporan ini disusun, kondisi banjir di Lombok Barat belum sepenuhnya surut dan masih menggenangi permukiman warga. Penanganan darurat terus dilakukan oleh pemerintah daerah bersama unsur terkait.
BNPB terus melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat guna memastikan penanganan darurat berjalan secara optimal.
Selain itu, BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, mengingat kondisi cuaca ekstrem masih berpeluang terjadi di berbagai wilayah Indonesia.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]