WAHANANEWS.CO, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meresmikan hunian sementara (huntara) bagi masyarakat terdampak bencana di Gampong Ulee Rubek Timu, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Kamis (5/2/2026).
Sebanyak 84 unit huntara telah selesai dibangun dan siap ditempati oleh warga yang sebelumnya harus tinggal di lokasi pengungsian.
Baca Juga:
BNPB Laporkan Rentetan Bencana Hidrometeorologi Akibat Hujan Lebat dan Angin Kencang
Peresmian huntara di Aceh Utara tersebut dilaksanakan secara serentak bersama sejumlah wilayah terdampak bencana lainnya di Indonesia.
Prosesi pemotongan pita sebagai tanda peresmian huntara di Gampong Ulee Rubek Timu, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh pada Kams (5/2/2026).
Lokasi pembangunan huntara tersebar di beberapa provinsi, yakni Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh, meliputi Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tanah Datar, Aceh Tamiang, Aceh Utara, serta Pidie Jaya.
Baca Juga:
Pergerakan Tanah di Tegal, 1.686 Warga dan Santri Mengungsi ke Lokasi Aman
Langkah ini merupakan bagian dari upaya percepatan pemulihan pascabencana sebagaimana arahan Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M.
Ia menekankan pentingnya proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang terarah, terkoordinasi, serta ditangani oleh pihak-pihak yang memiliki kompetensi teknis sesuai dengan bidangnya masing-masing.
Para warga bersama tamu undangan mengikuti rangkaian kegiatan peresmian huntara serentak antara Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh, Kamis (5/2/2026).
Tenaga Ahli BNPB Kol. Inf. Hery Setiono menjelaskan bahwa proses pembangunan huntara melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat.
Warga dilibatkan melalui pembentukan kelompok kerja (pokja) pembangunan huntara agar proses berjalan transparan dan tepat sasaran.
Selain itu, data penerima manfaat telah diverifikasi dengan baik sehingga setiap warga memperoleh hunian sesuai dengan haknya.
Fasilitas sudah siap digunakan di Gampong Ulee Rubek Timu, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh pada Kams (5/2/2026).
Partisipasi masyarakat juga mendapat apresiasi dari warga setempat. Muhazir, warga Gampong Ulee Rubek Timu, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas peresmian huntara yang kini dapat mereka tempati.
Ia menilai kekompakan antara masyarakat dan aparatur desa menjadi kunci percepatan pendataan warga terdampak.
"Alhamdulillah sangat luar biasa, kami kompak masyarakat dengan aparatur desa sehingga cepat untuk pendataan, jadi kami sudah bisa menempati huntara disini, terima kasih BNPB," ujar Muhazir.
Fasilitas sudah siap digunakan di Gampong Ulee Rubek Timu, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh pada Kams (5/2/2026).
Selain fokus pada pemulihan infrastruktur, BNPB juga menaruh perhatian besar terhadap aspek hunian bagi masyarakat terdampak bencana.
Penempatan huntara dirancang dengan mempertimbangkan tata ruang berbasis risiko bencana agar tidak kembali berada di kawasan rawan yang berpotensi membahayakan keselamatan warga.
Huntara yang dibangun juga dirancang untuk mendukung keberlanjutan layanan dasar masyarakat, seperti ketersediaan air bersih, sanitasi, dan lingkungan yang layak huni.
Pemulihan sektor perumahan dinilai sebagai fondasi penting dalam membangun kembali ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat pascabencana.
Fasilitas penunjang huntara seperti akses air bersih, sanitasi dan listrik sudah siap digunakan di Gampong Ulee Rubek Timu, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh pada Kams (5/2/2026).
BNPB menargetkan seluruh korban banjir tidak lagi tinggal di tenda pengungsian dan proses pemindahan ke huntara dapat rampung sebelum bulan Ramadhan.
Sebagian pengungsi akan menempati hunian sementara, sementara lainnya tinggal sementara di rumah keluarga atau kerabat.
Secara keseluruhan, pembangunan huntara di Kabupaten Aceh Utara direncanakan mencapai 2.449 unit.
Melalui koordinasi lintas sektor yang kuat antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, proses rehabilitasi dan rekonstruksi diharapkan tidak hanya memulihkan kehidupan warga, tetapi juga meningkatkan ketahanan wilayah terhadap risiko bencana di masa mendatang.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]