WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pemerintah terus mengintensifkan upaya pemulihan layanan kesehatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muda Sedia, Kabupaten Aceh Tamiang, hingga Kamis (8/1/2026).
Banjir besar yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025 lalu sempat melumpuhkan hampir seluruh operasional rumah sakit, sehingga pelayanan kesehatan kepada masyarakat tidak dapat berjalan secara normal.
Baca Juga:
Negara Hadir Sejak Hari Pertama, PLN Terangi 600 Huntara Aceh Tamiang
Bencana banjir menyebabkan seluruh kompleks rumah sakit terendam air dengan ketinggian mencapai tiga meter.
Kondisi diperparah oleh endapan lumpur setebal lebih dari 30 sentimeter yang menutup hampir seluruh ruangan.
Alat berat jenis eskavator membersihkan lumpur sisa banjir di halaman RSUD Muda Sedia, Aceh Tamiang, Kamis (8/1/2026).
Baca Juga:
Wamendagri Minta Praja IPDN Segara Pulihkan Roda Pemerintahan Aceh Tamiang
Akibatnya, berbagai fasilitas medis, sarana penunjang, serta prasarana vital rumah sakit mengalami kerusakan berat.
Bahkan, sejumlah peralatan penting, termasuk armada ambulans, tidak lagi dapat digunakan pascabanjir.
Menghadapi situasi tersebut, berbagai pihak bergerak cepat melakukan penanganan.
Personel TNI dan Polri bersama relawan serta masyarakat sekitar bergotong royong membersihkan lumpur dan puing-puing yang menutupi area rumah sakit.
Montir relawan melakukan perbaikan mesin mobil ambulance yang sempat terendam banjir di RSUD Muda Sedia, Aceh Tamiang, Kamis (8/1/2026).
Secara paralel, Kementerian Kesehatan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dinas Kesehatan Aceh Tamiang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Tamiang, serta relawan kesehatan mulai melakukan pemulihan peralatan medis agar layanan rumah sakit dapat kembali dioperasikan.
Untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan selama masa tanggap darurat, Kementerian Kesehatan mengerahkan ratusan tenaga relawan dari berbagai profesi kesehatan.
Di Aceh Tamiang, relawan tersebut terdiri dari 125 dokter spesialis, 220 dokter umum dan dokter gigi, 67 apoteker, 312 bidan dan perawat, 117 tenaga kesehatan lainnya, serta 123 tenaga nonmedis.
Apoteker menunjukkan salah satu obat di ruang farmasi RSUD Muda Sedia, Aceh Tamiang, Kamis (8/1/2026).
Para relawan tidak hanya bertugas di RSUD Muda Sedia, tetapi juga disebar ke berbagai fasilitas pelayanan kesehatan di tingkat kecamatan hingga desa.
Tenaga kesehatan mengambil sampel darah pasien rawat jalan untuk observasi kesehatan di RSUD Muda Sedia, Aceh Tamiang, Kamis (8/1/2026).
Mereka memberikan layanan kesehatan dasar, pemeriksaan umum, hingga penanganan kasus kegawatdaruratan, khususnya bagi masyarakat yang masih terdampak langsung oleh bencana banjir.
Perawat mengganti cairan infus untuk pasien rawat inap di RSUD Muda Sedia, Aceh Tamiang, Kamis (8/1/2026).
Secara bertahap, RSUD Muda Sedia mulai kembali beroperasi. Sejak 9 Desember 2025, layanan kesehatan kepada masyarakat telah dibuka kembali meskipun masih dalam keterbatasan fasilitas dan kapasitas pelayanan.
Untuk sementara, ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) difungsikan ganda sebagai ruang rawat inap bagi pasien dengan kondisi medis ringan.
Sejumlah pasien yang didampingi keluarga menjalani rawat inap di ruang IGD RSUD Muda Sedia, Aceh Tamiang, Kamis (8/1/2026).
Beberapa ruang rawat inap lainnya dimanfaatkan untuk menangani pasien dengan kebutuhan medis tertentu.
Selain itu, satu ruangan khusus telah disiapkan dan difungsikan untuk pelayanan bedah minor serta persalinan.
Seiring berjalannya waktu, kualitas dan cakupan layanan kesehatan di RSUD Muda Sedia terus menunjukkan peningkatan.
Hal ini sejalan dengan proses perbaikan sarana dan prasarana yang dilakukan secara bertahap melalui kolaborasi lintas sektor.
Perawat membawa pasien menggunakan kursi roda setelah menjalani rawat inap di RSUD Muda Sedia, Aceh Tamiang, Kamis (8/1/2026).
Pemulihan RSUD Muda Sedia tidak hanya berfokus pada pembangunan kembali gedung dan fasilitas fisik, tetapi juga menjadi upaya menghidupkan kembali harapan masyarakat Aceh Tamiang untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang layak dan berkelanjutan.
Di tengah sisa lumpur yang belum sepenuhnya hilang, semangat kebersamaan dan kepedulian berbagai pihak menjadi bukti bahwa pelayanan kemanusiaan tetap berjalan.
Meski membutuhkan waktu, proses pemulihan terus bergerak maju demi kesehatan masyarakat.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]