WAHANANEWS.CO, Jakarta - Hujan deras mengguyur wilayah Tapanuli Tengah selama beberapa hari berturut-turut tanpa jeda.
Sejak dini hari, suara gemuruh Sungai Sipansihaporas terdengar semakin keras, menghantam bebatuan dan menyeret ranting serta batang kayu besar dari kawasan hulu. Di sejumlah desa, warga memilih terjaga.
Baca Juga:
Akibat Bencana Perusahaan Banyak Tutup, Masyarakat Terancam PHK
Lampu-lampu rumah dibiarkan menyala, sementara pandangan mereka terus tertuju ke arah sungai, diliputi kecemasan akan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Rentetan bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra pada November lalu menghadirkan situasi penuh ketegangan.
Cuaca ekstrem bukan hanya menguji kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat, tetapi juga menyoroti peran penting infrastruktur strategis dalam melindungi wilayah sekitar.
Baca Juga:
Misa Malam Natal di Tenda Pengungsian: Khidmat dan Penuh Semangat Kebersamaan
Di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sipansihaporas tampil dengan fungsi yang jauh melampaui perannya sebagai penyedia energi listrik berbasis energi baru terbarukan.
Salah satu warga Desa Sihaporas, Kecamatan Pinangsori, Erwin Tambunan, menjadi saksi langsung bagaimana situasi mencekam itu berlangsung.
Tinggal di kawasan hilir Sungai Sipansihaporas, Erwin masih mengingat jelas momen ketika permukaan air sungai terus meninggi sejak pagi hari.