WAHANANEWS.CO, Jakarta - Organisasi Relawan Nasional MARTABAT Prabowo-Gibran merespons positif langkah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang menggandeng investor dari Tiongkok serta mitra lokal untuk mentransformasi pengelolaan sampah konvensional menuju sistem modern berbasis teknologi Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL).
Kolaborasi lintas daerah dan lintas negara tersebut dinilai sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan serta visi transisi energi nasional.
Baca Juga:
Ketua Komisi II Ingatkan Hal Ini Soal Pembebasan Lahan Proyek PSEL Bantargebang
Ketua Umum MARTABAT Prabowo-Gibran, KRT Tohom Purba, menegaskan bahwa inisiatif aglomerasi pengelolaan sampah di Pekalongan Raya hingga Tegal Raya merupakan terobosan kebijakan yang patut diapresiasi.
“Ini bukan hanya proyek persampahan, melainkan lompatan paradigma. Sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, tetapi sebagai sumber daya energi yang memiliki nilai ekonomi, sosial, dan ekologis,” ujar Tohom, Jumat (30/1/2026).
Keterlibatan investor internasional seperti Chinese People’s Political Consultative Conference (CPPCC) dengan dukungan mitra nasional, sambung Tohom, menunjukkan meningkatnya kepercayaan global terhadap arah kebijakan lingkungan Indonesia, khususnya di daerah.
Baca Juga:
Proyek Pembangkit Listrik Sampah, Danantara: 200 Perusahaan Nyatakan Minat
Ia menilai skema aglomerasi antardaerah merupakan jawaban realistis atas keterbatasan kapasitas dan lahan TPA di banyak wilayah.
“Persoalan sampah tidak bisa diselesaikan secara parsial. Ketika daerah-daerah berani duduk bersama, menyatukan timbulan sampah untuk memenuhi skala ekonomi PSEL, di situlah negara hadir secara konkret,” tegasnya.
Tohom juga menyoroti data timbulan sampah Jawa Tengah yang mencapai jutaan ton per tahun dengan tingkat pengelolaan efektif yang masih rendah.
Menurutnya, transformasi dari sistem open dumping menuju teknologi Waste to Energy (WTE) merupakan keniscayaan yang tidak bisa ditunda jika Indonesia ingin keluar dari krisis lingkungan laten.
Pada bagian lain, Tohom yang juga Pengamat Energi dan Lingkungan ini mengatakan bahwa proyek PSEL memiliki nilai strategis ganda, yakni sebagai solusi lingkungan sekaligus penopang ketahanan energi nasional.
“PSEL adalah simpul penting antara agenda lingkungan dan agenda energi. Jika dikelola dengan regulasi ketat dan teknologi yang tepat, ia akan menjadi fondasi ekonomi hijau daerah sekaligus menekan emisi dan risiko pencemaran,” jelasnya.
Ia mengingatkan agar seluruh proyek PSEL tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, transparansi, serta kepatuhan terhadap standar lingkungan.
Menurutnya, keberhasilan PSEL bukan hanya diukur dari listrik yang dihasilkan, tetapi dari keberlanjutan ekosistem dan penerimaan sosial masyarakat sekitar.
“Ke depan, model seperti Pekalongan Raya dan Tegal Raya harus direplikasi secara nasional. Ini sejalan dengan visi besar pemerintahan Prabowo-Gibran dalam membangun Indonesia yang berdaulat energi, berdaya saing, dan berkelanjutan,” pungkas Tohom.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]