Lebih lanjut, Menpora menegaskan bahwa catur memiliki nilai strategis yang tidak hanya sebatas olahraga kompetitif, tetapi juga sebagai sarana pembentukan karakter bangsa.
Ia menyebut permainan catur mampu melatih kecerdasan, kedisiplinan, serta kesabaran, terutama bagi generasi muda.
Baca Juga:
Indonesia Tegaskan Peran Aktif dalam Penyusunan Rencana Pemuda ASEAN 2026–2030
"Di era hari ini banyak anak-anak muda kita dibawah 16 tahun saat ini tidak boleh hanya bermain online games, bukan berarti catur tidak bisa breakthrough (terobosan), kenapa tidak ada online catur dan itu bisa mendorong pertandingan versi online, artinya ada stimulus ekonomi sehingga mereka bisa menjadi turnamen yang baik menuju sport tourism," jelas Menpora.
Dalam kesempatan tersebut, Menpora Erick juga mengungkapkan bahwa pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga terus mendorong transformasi sistem pembinaan olahraga nasional.
Dengan keterbatasan anggaran, program yang dijalankan harus lebih tepat sasaran dan berorientasi pada hasil jangka panjang.
Baca Juga:
Reformasi BLU Kemenpora, LPUK Hadir dengan Misi Tingkatkan Usaha Keolahragaan
"Kami dari pemerintah dengan segala keterbatasan kami juga mendorong adanya transformasi. Seperti di Kemenpora, kita juga dorong bertransformasi besar-besaran, karena dengan minim anggaran ini kita harus membuat program yang tepat sasaran. Kita juga membagi pelatnas menjadi tiga, atlet elite, atlet tengah dan atlet muda, transformasi ini harus terjadi karena harus ada regenerasi," jelasnya lagi.
Menpora menegaskan komitmen pemerintah untuk terus bersinergi dengan PB Percasi, termasuk mendukung kepengurusan baru hasil Munas.
Ia berharap sosok ketua umum yang terpilih nantinya benar-benar memiliki dedikasi terhadap olahraga catur serta mampu membangun kemandirian pendanaan organisasi.