Ketertarikan Rina terhadap bulu tangkis bermula dari lingkungan sekitar rumahnya.
Ia kerap berada di sebuah gelanggang olahraga dan membantu menjadi wasit demi mendapatkan uang jajan.
Baca Juga:
Indonesia Lampaui Target Harian, Raih 21 Emas di Hari Kedua ASEAN Para Games 2025
Dari situ, kecintaannya terhadap olahraga tepok bulu semakin tumbuh meski sarana yang dimiliki sangat terbatas.
"Deket rumah ada gor bulutangkis, saya sering jadi wasit buat uang jajan, saat yang lain istirahat saya coba main dan akhirnya saya termotivasi. Dulu saya masih pakai piring seng yang buat makan itu, karena belum punya modal beli raketnya," ujar Rina.
Seiring waktu, mimpi Rina perlahan terwujud. Ia mulai menorehkan prestasi di berbagai ajang daerah dan nasional hingga akhirnya dipercaya masuk pemusatan latihan nasional (pelatnas).
Baca Juga:
Indonesia Pamerkan Identitas Bangsa dalam Pembukaan ASEAN Para Games
"Di pikiran saya suatu saat nanti saya bakal bisa main di tengah lapangan di krumunin dan ditonton banyak orang. Sebelum masuk pelatnas saya sempat Peparda di Bogor dapat emas, Kejurnas (2019) dapat emas dan 2019 awal saya dipanggil pelatnas," kata Rina.
Peran sang ibu menjadi kekuatan utama yang terus mengiringi langkah Rina.
Dukungan dan motivasi keluarga membuatnya mampu menepis rasa minder dan terus percaya diri mengejar prestasi, bahkan hingga tampil di level internasional.