WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kabar membanggakan kembali datang dari dunia olahraga nasional.
Tim para atletik Indonesia tampil impresif dengan mengoleksi total 16 medali pada ajang World Para Athletics Grand Prix 2026 yang berlangsung di Tlaxcala, Meksiko, pada 21–24 Juli 2026.
Baca Juga:
Meksiko Ketok Tarif Impor 35 Persen, Produk RI Ikut Terdampak
Prestasi tersebut menjadi bukti konsistensi pembinaan atlet nasional sekaligus modal berharga menuju berbagai kejuaraan internasional berikutnya.
Dari total raihan tersebut, kontingen Merah Putih berhasil membawa pulang 15 medali emas dan satu medali perak.
Hasil luar biasa itu mengantarkan Indonesia menempati posisi runner-up klasemen akhir perolehan medali, hanya berada di bawah tuan rumah Meksiko.
Baca Juga:
Jet Pribadi Jatuh Saat Mendarat Darurat di Meksiko, 7 Orang Tewas
Meksiko sendiri tampil sebagai juara umum setelah menurunkan ratusan atlet dan mengumpulkan 99 medali emas, 101 medali perak, serta 81 medali perunggu sepanjang penyelenggaraan kejuaraan yang diikuti atlet-atlet dari 26 negara tersebut.
Salah satu atlet yang tampil paling menonjol adalah Nanda Mei Sholihah. Atlet yang turun di klasifikasi T47 itu sukses mempersembahkan tiga medali emas, masing-masing dua emas dari nomor individu dan satu emas dari nomor estafet (relay).
Penampilannya menjadi salah satu kunci keberhasilan Indonesia mendulang medali dalam kompetisi level dua kalender resmi World Para Athletics tersebut.
Prestasi gemilang juga ditorehkan Karisma Evi Tiarani dan Taufik Abdul Karim.
Keduanya sama-sama berhasil mengamankan dua medali emas dari nomor individu yang mereka ikuti.
Sementara itu, deretan medali emas lainnya disumbangkan oleh Ni Made Arianti Putri, Saptoyogo Purnomo, Jaenal Aripin, Alfin Nomleni, Partin, Fauzi Purwolaksono, I Kadek Dwi Purwana Yasa, dan Suparni Yati.
Adapun satu-satunya medali perak bagi Indonesia diraih oleh Jaenal Aripin, sehingga semakin memperkokoh posisi Indonesia di papan atas klasemen.
Pelatih para atletik Indonesia, Setyo Budi Hartanto, memberikan apresiasi tinggi terhadap perjuangan dan penampilan seluruh atlet selama mengikuti kejuaraan.
Menurutnya, hasil tersebut menunjukkan bahwa program pemusatan latihan nasional (pelatnas) jangka panjang mulai membuahkan hasil yang nyata.
"Hasilnya sangat memuaskan. Ada yang memecahkan rekor dunia atas nama Kadek Dwi di nomor lempar cakram F57 dan memecahkan rekor Asia atas nama Nanda Sholihah di nomor 100 meter T47," kata Setyo Budi Hartanto, Senin (27/7).
Tak hanya membawa pulang medali, keikutsertaan Indonesia di World Para Athletics Grand Prix 2026 juga memiliki nilai strategis.
Ajang ini menjadi kesempatan bagi para atlet untuk mengumpulkan poin menuju kualifikasi Paralimpiade Los Angeles 2028, sekaligus menjadi uji kemampuan terakhir sebelum tampil pada Asian Para Games 2026 di Nagoya, Jepang.
Setyo Budi menilai waktu penyelenggaraan kejuaraan di Meksiko sangat ideal karena masih tersedia sekitar tiga bulan untuk melakukan evaluasi dan peningkatan performa atlet sebelum turun di Asian Para Games.
"Timing-nya tepat sekali. Kita masih memiliki waktu tiga bulan menuju Asian Para Games. Kita akan kembangkan lagi agar performa para atlet mencapai puncaknya di Nagoya nanti," tutur Setyo Budi.
Dengan hasil membanggakan ini, tim para atletik Indonesia semakin optimistis menatap persaingan di level Asia maupun dunia.
Capaian medali, ditambah lahirnya rekor dunia dan rekor Asia, menjadi sinyal positif bahwa persiapan menuju Asian Para Games 2026 dan Paralimpiade Los Angeles 2028 berada di jalur yang tepat.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]