WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kontingen para atletik Indonesia menorehkan prestasi membanggakan di ajang kejuaraan dunia yang berlangsung di Meksiko.
Tim Merah Putih berhasil mengoleksi 15 medali emas dan satu medali perak, hasil yang mengantarkan Indonesia menempati posisi kedua atau runner-up pada klasemen akhir kejuaraan internasional tersebut.
Baca Juga:
Kabur ke Martapura, Polres Kerinci Bekuk Empat Pelaku Pencurian dengan Kekerasan Lintas Provinsi
Pencapaian tersebut menjadi bukti konsistensi para atlet Indonesia dalam bersaing di level dunia sekaligus memperkuat optimisme menghadapi agenda besar berikutnya, yakni Asian Para Games 2026.
Kejuaraan yang diikuti atlet dari 26 negara itu juga menjadi ajang penting untuk mengukur kesiapan para atlet nasional sebelum memasuki fase kompetisi yang lebih bergengsi.
Berdasarkan laporan National Paralympic Committee (NPC) Indonesia pada Senin (27/7/2026), tuan rumah Meksiko keluar sebagai juara umum setelah mengumpulkan total 281 medali sepanjang kejuaraan.
Baca Juga:
Totok Hedi Santosa Kritik Pola Kemitraan Perhutani, Petani Diminta Lebih Bebas Tentukan Komoditas
Sementara Indonesia sukses mengamankan posisi kedua berkat torehan medali yang diraih para atlet dari berbagai nomor pertandingan.
Pelatih para atletik Indonesia, Setyo Budi Hartanto, mengapresiasi penampilan seluruh atlet yang dinilai mampu menunjukkan perkembangan signifikan selama kejuaraan berlangsung.
Menurutnya, hasil tersebut tidak hanya menghadirkan prestasi, tetapi juga menjadi indikator positif bagi persiapan menuju ajang internasional berikutnya.
"Hasilnya sangat memuaskan. Ada yang memecahkan rekor dunia atas nama Kadek Dwi di nomor lempar cakram F57 dan memecahkan rekor Asia atas nama Nanda Sholihah di nomor 100 meter T47," kata Setyo Budi Hartanto, Senin.
Setyo menilai pencapaian para atlet akan menjadi modal berharga dalam mengumpulkan poin menuju Paralimpiade Los Angeles 2028.
Selain itu, kejuaraan dunia di Meksiko merupakan uji coba terakhir sebelum skuad Indonesia melanjutkan persiapan menuju Nagoya, Jepang.
"Timing-nya tepat sekali. Kita masih memiliki waktu tiga bulan menuju Asian Para Games. Kita akan kembangkan lagi agar performa para atlet mencapai puncaknya di Nagoya nanti," ujar Setyo Budi.
Salah satu sorotan utama datang dari atlet lempar cakram F57, I Kadek Dwi Purwana Yasa.
Atlet asal Indonesia itu sukses mencatatkan lemparan sejauh 48,68 meter yang sekaligus memecahkan rekor dunia sebelumnya milik atlet Brasil, Thiago Paulino dos Santos.
Capaian tersebut menjadi salah satu momen paling bersejarah bagi Indonesia dalam kejuaraan kali ini.
Meski berhasil mencetak sejarah, Kadek mengaku tidak pernah membayangkan mampu memecahkan rekor dunia saat turun bertanding.
Ia mengaku hanya berusaha memberikan penampilan terbaik tanpa memikirkan hasil akhir.
"Sebenarnya tidak menyangka bisa pecah rekor. Saya hanya berusaha lempar sebisanya, tetapi ternyata dari lemparan sebisanya itu malah pecah rekor di sini. Tentunya saya senang dan masih engga expect," kata Kadek.
Kadek juga menceritakan sejumlah tantangan yang dihadapi selama mengikuti kejuaraan di Meksiko.
Perjalanan panjang dari Indonesia menuju lokasi pertandingan serta perbedaan makanan menjadi kendala yang sempat memengaruhi kondisi atlet.
Meski demikian, ia mengatakan seluruh hambatan tersebut dapat diatasi dengan manajemen pemulihan yang baik serta membawa persediaan makanan khas Indonesia selama berada di luar negeri.
"Kendala yang pertama solusinya istirahat yang banyak. Untuk yang kedua, kita membawa bekal makanan dari Indonesia. Jadi, dua kendala itu bisa kita atasi," ujar Kadek.
Prestasi membanggakan juga ditorehkan pelari putri Indonesia, Nanda Mei Sholihah.
Ia sukses menyumbangkan tiga medali emas sekaligus memecahkan rekor Asia pada nomor lari 100 meter T47.
Penampilan impresif tersebut semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama para atletik di kawasan Asia.
Bagi Nanda, tantangan terbesar bukan berasal dari lawan di lintasan, melainkan dari dirinya sendiri.
Ia mengaku keberhasilan yang diraih merupakan buah dari persiapan yang matang serta kemampuan mengendalikan rasa takut saat bertanding.
"Sebenarnya yang menjadi lawan terberat justru diri sendiri karena melawan rasa takut. Tetapi dengan persiapan yang cukup matang, Alhamdulillah berjalan sesuai harapan," kata Nanda.
Kepercayaan diri Nanda juga semakin meningkat setelah mencatatkan rekor terbaik pribadinya pada nomor lari 200 meter.
Ia berharap momentum positif tersebut dapat terus berlanjut hingga Asian Para Games 2026, di mana dirinya dijadwalkan tampil pada nomor 100 meter, 200 meter, dan estafet.
"Target selanjutnya di Asian Para Games 2026. Saya mengikuti tiga nomor, di 100 meter, 200 meter dan relay. Harapan saya, lebih semangat lagi, bisa mencapai target pribadi, bahkan mimpinya bisa memecahkan rekor-rekor yang sudah ada," ucap Nanda.
Selain Kadek dan Nanda, sejumlah atlet Indonesia lainnya juga turut menyumbangkan medali emas dari berbagai nomor pertandingan.
Hasil tersebut menjadi modal berharga bagi tim para atletik Indonesia untuk menatap Asian Para Games 2026 serta menjaga peluang meraih prestasi lebih tinggi pada Paralimpiade Los Angeles 2028.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]