WAHANANEWS.CO, Jakarta - Tahun 2026 akan menjadi momen istimewa bagi para pecinta astronomi.
Beragam fenomena langit menarik diprediksi akan menghiasi langit sepanjang tahun, mulai dari oposisi planet Jupiter, deretan planet yang tampak sejajar, hingga sejumlah hujan meteor dan gerhana.
Baca Juga:
4 Fenomena Gerhana di Tahun 2024, Simak Jadwalnya
Salah satu peristiwa awal yang patut disorot adalah terjadinya oposisi Jupiter pada Sabtu, 10 Januari 2026.
Oposisi Jupiter merupakan fenomena yang terjadi sekitar setiap 13 bulan sekali. Pada kondisi ini, Matahari, Bumi, dan Jupiter berada pada satu garis lurus dengan Bumi di posisi tengah.
Dampaknya, planet terbesar di Tata Surya tersebut akan tampak lebih besar, lebih terang, dan lebih jelas dibandingkan waktu lainnya dalam setahun, sehingga menjadi waktu terbaik untuk mengamati Jupiter.
Baca Juga:
Catat Waktunya, Ini 3 Fenomena Langit pada Januari 2024
Lantas, fenomena astronomi apa saja yang akan terjadi sepanjang 2026? Mengutip Smithsonian Magazine, berikut rangkaian peristiwa langit yang menarik untuk disaksikan.
Enam Planet Sejajar di Langit
Fenomena enam planet sejajar akan terjadi pada Sabtu, 28 Februari 2026. Peristiwa ini umumnya muncul menjelang akhir Februari.
Enam planet yang terlibat dalam fenomena ini adalah Merkurius, Venus, Saturnus, Jupiter, Uranus, dan Neptunus.
Di antara keenam planet tersebut, Merkurius, Venus, dan Saturnus akan tampak berkelompok dan sejajar di langit bagian selatan.
Jupiter akan terlihat bersinar terang di dekat Bulan, sementara Uranus dan Neptunus membutuhkan bantuan teleskop atau teropong untuk dapat diamati dengan jelas.
Fenomena serupa juga diperkirakan akan kembali terjadi pada Desember 2026, bertepatan dengan periode Natal.
Gerhana Bulan Total (Blood Moon)
Gerhana Bulan total atau yang dikenal sebagai Blood Moon akan terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026 dini hari.
Fenomena ini berlangsung ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus, sehingga bayangan Bumi sepenuhnya menutupi Bulan.
Selama proses gerhana yang berlangsung sekitar lima jam, Bulan akan tampak berwarna merah hingga oranye.
Gerhana Bulan total ini dapat disaksikan dari berbagai wilayah di dunia, termasuk Amerika Utara, Asia, hingga Australia.
Hujan Meteor Lyrid
Langit malam juga akan dihiasi oleh hujan meteor Lyrid yang berlangsung pada Selasa, 21 April hingga Rabu, 22 April 2026 dini hari.
Fenomena ini terjadi ketika Bumi melintasi sisa-sisa debu yang ditinggalkan oleh Komet Thatcher, yang memiliki periode orbit sekitar 415 tahun mengelilingi Matahari.
Bulan Purnama Mikro Biru (Blue Micromoon)
Fenomena Bulan Purnama Mikro Biru atau Blue Micromoon akan terjadi pada Minggu, 31 Mei 2026.
Peristiwa ini muncul akibat adanya dua kali bulan purnama dalam satu bulan kalender, di mana bulan purnama kedua disebut sebagai Blue Moon.
Selain itu, pada saat tersebut Bulan berada di titik terjauhnya dari Bumi atau apogee.
Kondisi ini membuat Bulan tampak sedikit lebih kecil dan redup dibandingkan bulan purnama pada umumnya.
Gerhana Matahari Total
Gerhana Matahari total akan melintasi sejumlah wilayah dunia pada Rabu, 12 Agustus 2026. Jalur gerhana ini meliputi Rusia, Greenland bagian timur, Islandia, Portugal, hingga Spanyol.
Beberapa kawasan Eropa akan mengalami gerhana total, sementara sebagian wilayah Afrika, Asia, dan Amerika Utara akan menyaksikannya sebagai gerhana sebagian.
Hujan Meteor Perseid
Masih pada Agustus, hujan meteor Perseid akan menghiasi langit malam pada Rabu, 12 Agustus hingga Kamis, 13 Agustus 2026 dini hari.
Fenomena tahunan ini terjadi ketika Bumi melintasi puing-puing yang berasal dari komet 109P/Swift-Tuttle, dan dikenal sebagai salah satu hujan meteor paling aktif serta mudah diamati.
Venus Bersinar Paling Terang
Planet Venus diprediksi akan tampak sangat terang di langit malam pada Jumat, 18 September 2026, terutama setelah Matahari terbenam.
Menariknya, Venus justru terlihat paling terang saat berada pada fase sabit, karena posisinya lebih dekat dengan Bumi.
Sebaliknya, ketika Venus berada pada fase penuh, planet ini justru terletak di belakang Matahari dari sudut pandang Bumi, sehingga cahayanya tampak lebih redup.
Hujan Meteor Spektakuler Akhir Tahun
Memasuki trimester terakhir 2026, rangkaian hujan meteor kembali akan memanjakan pengamat langit.
Salah satunya adalah hujan meteor Orionid yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Rabu, 21 Oktober hingga Kamis, 22 Oktober 2026.
Fenomena ini terjadi ketika Bumi melintasi aliran partikel debu yang berasal dari Komet Halley (1P/Halley).
Partikel-partikel tersebut memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan sekitar 41 mil per detik, menciptakan kilatan cahaya yang memukau di langit malam.
Supermoon Terakhir 2026
Rangkaian fenomena astronomi tahun 2026 akan ditutup dengan kemunculan Bulan Purnama Terakhir atau Supermoon pada Rabu, 23 Desember 2026.
Peristiwa ini terjadi saat Bulan berada di titik terdekatnya dengan Bumi dalam orbit, yang dikenal sebagai perigee.
Jika dibandingkan dengan Blue Micromoon pada 31 Mei 2026, Supermoon ini akan terlihat sekitar 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang, menjadikannya penutup yang spektakuler bagi fenomena langit sepanjang tahun.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]