WAHANANEWS.CO - Satu kata sederhana seperti “halo” kini bisa menjadi pintu masuk kejahatan digital, setelah Badan Siber dan Sandi Negara memperingatkan publik soal bahaya mengangkat telepon dari nomor tak dikenal yang berpotensi dimanfaatkan untuk kloning suara berbasis kecerdasan buatan.
Badan Siber dan Sandi Negara menegaskan modus ini memungkinkan penipu meniru suara seseorang secara sangat realistis dan menggunakannya untuk menjerat korban.
Baca Juga:
Jambi Sukses Bentuk TTIS di Seluruh Daerah, Jadi Provinsi Keenam di Indonesia
"Bayangkan menerima telepon dari suara yang terdengar persis seperti orang terdekatmu... tapi ternyata itu penipuan 😨 Di era AI, kloning suara memungkinkan penipu meniru suara manusia dengan sangat realistis," tulis BSSN melalui akun Instagram resminya, Minggu (1/2/2025) --.
BSSN menjelaskan proses kloning suara dapat terjadi ketika seseorang menjawab panggilan dari nomor asing, bahkan hanya dengan mengucapkan kata singkat seperti “halo”.
"Rekaman suara kita, tanpa disadari—AI yang menyedot detik-teri itu, membekukan kata-kata 'HALO' menjadi duplikat digital, lalu mereka menggunakan suaramu lalu menirunya, untuk menjebak orang terdekatmu," lanjut pernyataan tersebut.
Baca Juga:
Cuma ada di Kota Medan, Ternyata Ini dia!
Suara yang telah berhasil dikloning kemudian bisa digunakan untuk berbagai tindak kejahatan.
"Digunakan untuk membuat rekaman palsu yang dapat digunakan untuk penipuan, pemerasan atau menyebarkan informasi palsu, digunakan untuk membuat suara yang memfitnah atau menyebarkan pernyataan jahat yang merusak reputasi seseorang," jelas BSSN.
Untuk mengantisipasi modus tersebut, BSSN mengimbau masyarakat menerapkan mekanisme verifikasi tambahan dalam komunikasi, seperti penggunaan kode sandi atau kata kunci rahasia di lingkungan keluarga maupun internal organisasi.