WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pernah merasa pikiran terus tertuju pada satu barang tertentu hingga muncul dorongan kuat untuk segera menekan tombol checkout?
Menurut para ilmuwan, kondisi tersebut terjadi ketika sistem reward di otak aktif dan melepaskan dopamin, yaitu zat kimia yang memicu rasa antusias, harapan, dan motivasi untuk mendapatkan sesuatu yang dianggap bernilai.
Baca Juga:
Belanja Online Terancam Lebih Mahal, YLKI Soroti Dampak Kenaikan Biaya Logistik
Melansir jurnal ilmiah Frontiers in Neuroscience, area otak yang paling berperan dalam proses ini adalah ventral tegmental area (VTA) dan nucleus accumbens, dua pusat reward yang membuat seseorang merasa sangat terdorong untuk memiliki produk yang diinginkan.
Menariknya, sensasi paling kuat justru sering muncul sebelum transaksi dilakukan, yaitu ketika konsumen membayangkan bagaimana rasanya memiliki barang tersebut.
Jika produk itu diasosiasikan dengan status sosial, kenyamanan, atau rasa percaya diri, amigdala akan memperkuat muatan emosional sehingga keinginan membeli menjadi semakin besar.
Baca Juga:
Dilema Cinta dan Uang, ‘Dopamin’ Sajikan Drama Rumah Tangga Penuh Ketegangan
Sementara itu, korteks prefrontal yang bertugas mengendalikan logika dan pertimbangan keuangan berusaha menahan impuls agar keputusan tetap rasional.
Namun ketika emosi terlalu dominan, dorongan dari sistem reward dapat mengalahkan kontrol diri.
Akibatnya, konsumen membeli barang yang sebenarnya belum tentu dibutuhkan.
Strategi pemasaran seperti “flash sale”, “stok tinggal sedikit”, dan “promo berakhir malam ini” dirancang untuk memicu rasa takut kehilangan kesempatan atau fear of missing out (FOMO).
Kondisi tersebut membuat dopamin meningkat dan mendorong otak untuk segera bertindak.
Gambaran ini diperkuat oleh survei yang dipublikasikan Invesp, yang menemukan bahwa 84 persen konsumen pernah melakukan pembelian impulsif, sementara diskon dan penawaran terbatas menjadi pemicu utama keputusan belanja mereka.
Metode pembayaran digital seperti dompet elektronik dan fitur buy now pay later juga membuat proses belanja terasa lebih ringan secara psikologis karena konsumen tidak merasakan pengeluaran uang secara langsung.
Setelah barang diterima, kadar dopamin biasanya menurun dan sebagian orang mulai mempertanyakan apakah pembelian itu benar-benar diperlukan.
Fenomena ini dikenal sebagai post-purchase regret atau penyesalan setelah membeli.
Para ilmuwan menilai mekanisme tersebut merupakan bagian dari naluri manusia untuk mengejar peluang yang dianggap menguntungkan.
Di era digital, naluri yang sama dimanfaatkan oleh platform e-commerce dan strategi pemasaran berbasis algoritma.
Dengan memahami cara kerja otak, konsumen dapat lebih waspada terhadap dorongan emosional dan membuat keputusan yang lebih bijak.
Jadi, ketika Anda merasa sangat ngebet ingin membeli suatu barang, sesungguhnya yang sedang bekerja keras bukan hanya keinginan, tetapi juga sistem reward di dalam otak.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]