Ironisnya, semakin sering seseorang berkata “ya”, semakin murah pula nilai profesionalnya. Ia tak lagi dipandang sebagai mitra berpikir, melainkan sekadar pelaksana perintah.
Dalam jangka panjang, organisasi tidak melihatnya sebagai kandidat pemimpin, melainkan roda cadangan yang bisa diputar kapan saja.
Baca Juga:
2 Intel Dituduh Provokator Hingga Dipukuli, Ini Keterangan Kapolres Tapteng
Matinya Daya Kritis dan Kreativitas
Karier tidak tumbuh dari kepatuhan semata, melainkan dari kontribusi bermakna. Yes-man specialist jarang mengajukan pertanyaan kritis, enggan menyampaikan perspektif alternatif, dan takut berbeda pendapat. Padahal, inovasi justru lahir dari dialog, perbedaan sudut pandang, dan keberanian menyuarakan ketidaknyamanan yang produktif.
Ketika seseorang selalu berkata “ya”, ia sesungguhnya sedang melatih dirinya untuk tidak berpikir. Dalam jangka panjang, ini mematikan kreativitas dan menjauhkan dirinya dari peran strategis yang membutuhkan analisis dan kepemimpinan.
Baca Juga:
Seleksi Kepala Sekolah di Kota Jambi Libatkan 291 Guru, Fokus pada Integritas dan Keteladanan
Kelelahan Emosional yang Tak Terlihat
Di balik sikap “siap, Pak” atau “baik, Bu” yang konsisten, sering tersembunyi kelelahan mental.
Yes-man specialist memikul beban berlebih, bekerja melampaui batas, dan menekan emosi demi menjaga citra. Burnout bukan lagi kemungkinan, melainkan keniscayaan.