WAHANANEWS.CO, Jakarta - Senyum yang tulus ternyata tidak hanya menghadirkan suasana hati yang lebih baik, tetapi juga diyakini mampu meningkatkan sistem imun, meredakan stres, mengurangi rasa sakit, hingga membantu menurunkan tekanan darah.
Di berbagai belahan dunia, ada negara-negara yang dikenal memiliki masyarakat yang ramah dan murah senyum, termasuk Indonesia.
Baca Juga:
Tak Lagi Sekadar Murah, Konsumen Cari Furniture Berkualitas dan Awet
Namun di sisi lain, terdapat sejumlah negara yang justru terkenal dengan penduduknya yang jarang tersenyum kepada orang lain.
Perbedaan budaya dan cara masyarakat mengekspresikan diri membuat kebiasaan tersenyum tidak selalu dimaknai sama di setiap negara.
Berikut tiga negara yang kerap disebut sebagai negara dengan penduduk paling pelit senyum di dunia.
Baca Juga:
SPI Desak RUU HPI Segera Disahkan, Saatnya Indonesia Tinggalkan Warisan Hukum Kolonial
Rusia menjadi salah satu negara yang paling sering mendapat predikat tersebut.
Mengutip The Atlantic, masyarakat Rusia umumnya tidak terbiasa tersenyum hanya karena humor ringan atau hal-hal yang dianggap sepele.
Bahkan, dalam pandangan sebagian masyarakat Rusia, terlalu sering tersenyum dapat dianggap sebagai tanda kurang serius atau bahkan kebodohan.
Nilai budaya tersebut telah diwariskan secara turun-temurun sejak usia dini.
Sejak kecil, banyak anak Rusia diajarkan bahwa senyum yang tidak memiliki alasan jelas bukanlah sesuatu yang perlu ditunjukkan kepada orang lain.
Kondisi itu membuat sebagian wisatawan asing menilai warga Rusia kurang ramah dibanding masyarakat dari negara lain.
Tak sedikit turis yang merasa sungkan untuk sekadar bertanya atau meminta bantuan kepada warga lokal karena ekspresi wajah mereka yang cenderung datar.
Jerman juga masuk dalam daftar negara yang dikenal tidak terlalu ekspresif dalam menunjukkan senyum.
Mengutip DW, masyarakat Jerman umumnya tidak menganggap senyum sebagai bagian penting dari interaksi sosial sehari-hari.
Fenomena tersebut bahkan kerap menjadi perhatian para akademisi asing yang bekerja di negara itu.
Mahasiswa Jerman sering dianggap kurang ramah oleh dosen-dosen dari luar negeri, terutama yang berasal dari Amerika Serikat.
Raut wajah datar yang ditunjukkan mahasiswa saat mengikuti perkuliahan sering disalahartikan sebagai kurang antusias atau tidak bersahabat.
Padahal, di balik kebiasaan tersebut terdapat pemahaman budaya yang berbeda.
Sebagian mahasiswa Jerman justru memandang ekspresi serius saat kuliah sebagai bentuk penghormatan kepada dosen yang sedang mengajar.
"Kurang senyum merupakan tanda penghormatan kepada dosen mereka," demikian pandangan yang berkembang di kalangan sebagian mahasiswa Jerman.
Selain Rusia dan Jerman, Norwegia juga kerap disebut sebagai negara dengan masyarakat yang tidak mudah tersenyum kepada orang asing.
Berdasarkan riset dalam jurnal Typically Norwegian to be impolite.' Impoliteness according to whom?, masyarakat Norwegia dikenal cukup hemat dalam berkomunikasi, termasuk dalam menunjukkan ekspresi senyum.
Kebiasaan tersebut sering menimbulkan kesan kurang ramah bagi para wisatawan yang baru pertama kali datang ke negara tersebut.
Dalam jurnal tersebut diceritakan pengalaman seorang wisatawan asal Jepang yang merasa tidak nyaman saat berinteraksi di sejumlah tempat pelayanan publik di Norwegia.
Menurut wisatawan tersebut, petugas di restoran maupun toko jarang menunjukkan senyuman ketika melayani pelanggan.
"Menjadi pelanggan di Norwegia sama sekali tidak nyaman," kata turis asal Jepang tersebut dikutip dari Ocean Access.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]