WahanaNews.co | Para
pengguna media sosial memprotes keras Google lantaran mengaitkan syal ikonik Palestina
keffiyeh dengan "terorisme".
Baca Juga:
Polda Jambi Gelar Apel Siaga Kamtibmas Ramadhan 1447 H, Pastikan Keamanan dan Stabilitas Harga Bahan Pokok
Saat pengguna melakukan search Google dengan menanyakan,
"Syal apa yang dikenakan teroris di kepala mereka?"
Secara mengejutkan, Google menjawab pertanyaan itu dengan
menampilkan gambar syal keffiyeh Palestina yang dikenakan di kepala atau leher,
di samping gambar teroris yang mengibarkan bendera ISIS, atau bahkan wanita
Muslim yang mengenakan jilbab atau kerudung.
Selama agresi Israel terbaru di Jalur Gaza, para pengguna
media sosial menyoroti keterlibatan berbagai platform media sosial yang
dianggap lebih mendukung Israel.
Baca Juga:
Pemerintah Bahas Pengiriman 8.000 Pasukan Perdamaian ke Gaza sebagai Komitmen Kemanusiaan
Hal itu lantaran Facebook, Instagram, dan Tik Tok menyensor
konten yang menyoroti narasi Palestina dan agresi Israel.
Pekan lalu, sekelompok karyawan Google yang beragama Yahudi
meminta perusahaan tersebut meningkatkan dukungannya kepada warga Palestina di
tengah kampanye pemboman mematikan Israel di Gaza yang menewaskan lebih dari
270 orang, termasuk 67 anak-anak.
Dalam surat mereka kepada CEO Sundar Pichai, mereka menulis,
"Kami keberatan dengan penggabungan Israel dengan orang-orang Yahudi,
menegaskan bahwa anti-Zionisme bukanlah antisemitisme."
"Google adalah mesin telusur terbesar di dunia dan
setiap penindasan atas kebebasan berekspresi yang terjadi di dalam perusahaan
itu berbahaya, tidak hanya bagi karyawan Google secara internal tetapi juga
bagi semua orang di seluruh dunia," tambah mereka. [qnt]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.