WAHANANEWS.CO, New York - Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan risiko pembatasan izin oleh Israel terhadap organisasi-organisasi internasional yang melakukan kerja kemanusiaan di Jalur Gaza.
Dalam pernyataan pers pada Minggu (11/1/2026), Direktur Komunikasi UNRWA Jonathan Fowler mengatakan Jalur Gaza saat ini membutuhkan lebih banyak bantuan kemanusiaan, bukan pembatasan yang justru menghambat kerja organisasi kemanusiaan.
Baca Juga:
Militer Israel Bunuh Dua Remaja Palestina, Keluarga: Mereka Hilang Sejak Malam Sebelumnya
Pada Desember 2025, Israel memutuskan untuk mencabut izin operasional puluhan organisasi internasional dan mengharuskan mereka menghentikan kegiatan di Gaza paling lambat Maret mendatang.
Fowler menegaskan situasi di Gaza masih sangat memprihatinkan meski ada perjanjian gencatan senjata. Penduduknya terus terbunuh, bantuan kemanusiaan tidak mencukupi, dan penderitaan semakin parah.
Ia mengatakan kondisi kemanusiaan di wilayah kantong Palestina itu diperburuk oleh badai musim dingin dan penyebaran penyakit pernapasan akibat cuaca, menurut laporan Anadolu.
Baca Juga:
RI Siapkan Lahan 15 Ribu Hektare untuk Rakyat Palestina di Kalimantan Utara
Ia menekankan bahwa anak-anak menjadi kelompok paling terdampak di Gaza. Tingkat kehilangan anggota tubuh di kalangan anak-anak di wilayah itu adalah yang tertinggi di dunia.
Menurut Fowler, UNRWA terus memberikan layanan pendidikan dan dukungan psikososial sejak Oktober 2023. Namun, bantuan tersebut masih belum memadai untuk mengatasi dampak jangka panjang yang ditimbulkan.
Terkait pembatasan izin oleh Israel, Fowler mengatakan kebijakan itu semakin mempersulit operasi kemanusiaan di Gaza. Ia menegaskan hukum internasional mewajibkan Israel memfasilitasi kegiatan tersebut.