Sebut saja, suami yang tidak kunjung menafkahi, kemudian merasa tidak berguna, dan menyelesaikan masalah dengan tidak tepat, yaitu melakukan kekerasan rumah tangga.
Bisa juga, penghasilan istri lebih besar daripada suami yang menyebabkan tuntutan pekerjaan istri lebih menghabiskan waktu untuk bekerja dibandingkan untuk keluarga.
Baca Juga:
Raih Emas SEA Games 2025, Robby Antasyafi Prioritaskan Bonus untuk Keluarga dan Masa Depan
Sementara persoalan lain, seperti perbedaan budaya, pernikahan dini, perbedaan usia yang terlalu jauh, atau hamil di luar nikah, dapat menjadi penyebab perceraian.
Bila dilihat dari sudut pandang hukum, perceraian merupakan keputusan yang mengubah hidup seseorang yang sudah sepatutnya dilakukan dengan sadar dan tanpa adanya unsur paksaan.
Oleh sebab itu, perceraian sangat tidak bijak bila dijadikan sebagai bahan obrolan ejekan, apalagi kepada anak-anak. Lantas, bagaimana mempersiapkan anak dalam menghadapi perceraian?
Baca Juga:
Jimmy Rekartono Meninggal Mendadak Saat Venna Melinda Berlibur di Bali
Jaga Konsistensi Kehidupan Keluarga
Di kala orangtua bercerai, anak akan cenderung melihat hidup dan keluarganya berantakan. Bahkan, bisa jadi anak sudah mulai merasakan ada yang tidak baik-baik saja dalam keluarganya.
Untuk mengatasinya, orangtua dapat berupaya bahwa kehidupan anak tidak akan berantakan dan perceraian bukanlah akhir dari kehidupan.