Ketiga sarang ini memiliki kemiripan bentuk tutup kepompong
yang bercahaya. Namun, memiliki perbedaan signifikan yang ditunjukan oleh
intensitas cahaya yang dihasilkan dan seberapa jauh jangkauan cahaya tersebut.
Penemuan ini bisa dibilang cukup misterius. Beberapa
pertanyaan dan spekulasi pun muncul tentang penemuan ini. Apakah cahaya ini ada
untuk menjadi penujuk pulang para tawon, ataukah cahaya ini dihasilkan oleh
tawon berjenis lain yang hinggap sebentar di sana saat sedang beristirahat.
Baca Juga:
Penemuan Kerangka Ibu & Anak di Bandung Barat, Polisi Ungkap Jejak Pembelian Sianida
Dalam dunianya, beberapa hewan memang menghasilkan cahaya
untuk menarik perhatian pasangannya atau untuk menghidari predator. Namun, hal
ini sungguh membingungkan, lantaran cahaya tersebut keluar dari sebuah sarang
yang entah untuk apa fungsinya.
Tidak mungkin hanya sebuah kebetulan belaka, jika cahaya
tersebut ada dalam jumlah yang cukup banyak.
"Mungkin ini hanya produk sampingan insidental dari
bagaimana sutra dibuat," ujar Liz Tibbetts, ahli tawon kertas di
University of Michigan yang tidak terlibat dalam penelitian ini.
Baca Juga:
Polisi Ungkap Kronologi Penemuan Mayat Mantan Bupati Jembrana Bali
Studi sebelumnya menunjukkan bahwa perkembangan larva tawon
sangat dipengaruhi oleh panjang relatif siang dan malam. Oleh karena itu, tutup
kepompong yang bersinar dapat membantu mengontrol seberapa banyak cahaya
matahari mencapai larva saat mereka tumbuh menjadi kepompong.
"Hipotesis ini adalah
hipotesis yang paling saya suka," kata Schöllhorn.