WAHANANEWS.CO, Jakarta - Hubungan dengan orangtua tak selalu hangat, dan dalam beberapa kasus justru bisa berubah menjadi sumber tekanan emosional yang melelahkan.
Tidak semua relasi antara anak dan ayah berjalan sehat, karena dalam sejumlah kondisi perilaku seorang ayah dapat berkembang menjadi toxic dan berdampak buruk bagi kondisi psikologis anak.
Baca Juga:
6 Penyebab Disfungsional Organisasi di Lingkungan Kerja, Apa Saja?
Perilaku tersebut umumnya muncul dalam jangka panjang dan membuat anak merasa tidak berharga, lelah secara emosional, serta terus-menerus disalahkan.
“Perilaku toxic adalah tindakan terhadap orang lain yang membuat mereka merasa buruk tentang hidup dan diri mereka sendiri,” jelas Irina Firstein.
Pernyataan itu disampaikan sebagaimana dikutip pada Senin (8/12/2025) dalam penjelasannya mengenai dinamika hubungan tidak sehat dalam keluarga.
Baca Juga:
Perilaku 'Self Gaslighting': Penyebab dan Tanda-tandanya
Menurutnya, perilaku toxic kerap ditandai oleh pola kritik berlebihan, kontrol, manipulasi, serta penggunaan rasa bersalah sebagai alat tekanan.
Salah satu tanda yang sering muncul adalah kebiasaan ayah yang terus membandingkan anak dengan saudara kandung, terutama untuk merendahkan atau menunjukkan kekurangan.
Pola ini dinilai dapat merusak rasa percaya diri dan memicu ketegangan dalam hubungan antar saudara.
Selain itu, ayah yang toxic juga cenderung tidak menghargai batasan pribadi anak, seperti melanggar privasi atau memaksakan kehendak tanpa mempertimbangkan keinginan anak.
Perilaku tersebut menunjukkan kurangnya penghormatan terhadap kemandirian individu.
Dalam banyak kasus, ayah juga selalu merasa dirinya paling benar dan menolak sudut pandang anak.
“Kontrol adalah ciri utama perilaku toxic,” kata Firstein.
Sikap ini sering kali membuat anak kehilangan ruang untuk berkembang karena setiap keputusan dianggap salah.
Interaksi dengan ayah yang toxic juga dapat menguras energi emosional, bahkan membuat anak merasa lelah setiap kali berkomunikasi.
Kondisi ini diperparah dengan adanya drama, keluhan berlebihan, dan tuntutan emosional yang terus-menerus.
Ayah yang toxic juga kerap memposisikan diri sebagai korban untuk memanipulasi perasaan anak.
Dengan cara ini, anak dibuat merasa bersalah meskipun tidak melakukan kesalahan yang berarti.
Selain itu, terdapat kecenderungan ayah untuk bersaing dengan anak, terutama saat anak mencapai keberhasilan.
Alih-alih memberikan apresiasi, keberhasilan anak justru dianggap sebagai ancaman terhadap dirinya.
Dalam komunikasi sehari-hari, ayah yang toxic juga cenderung menjadikan dirinya sebagai pusat pembicaraan tanpa memberi ruang bagi anak untuk didengar.
Situasi ini membuat hubungan menjadi tidak seimbang dan berat sebelah.
Bentuk lain dari perilaku toxic adalah memberikan bantuan dengan syarat tertentu, yang kemudian diungkit kembali untuk menekan anak secara emosional.
Hubungan yang sehat seharusnya tidak menimbulkan rasa berhutang secara psikologis.
Tanda terakhir yang sering muncul adalah standar yang tidak realistis, di mana apa pun yang dilakukan anak selalu dianggap kurang.
“Dalam banyak kasus, masalah ini bukan berada pada dirimu, tetapi pada standar tidak realistis yang ia tetapkan,” ucap Firstein.
Kondisi tersebut membuat anak terus merasa gagal dan tidak pernah cukup di mata ayahnya.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]