WAHANANEWS.CO, Jakarta - Video keributan antara seorang guru SMK dan sejumlah siswa di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, meledak di media sosial dan berbuntut panjang hingga ke kantor polisi.
Peristiwa yang terjadi di SMKN 3 Berbak itu menyeret nama Agus Saputra, seorang guru produktif, yang terekam terlibat aksi dorong hingga adu pukul dengan beberapa murid di lingkungan sekolah.
Baca Juga:
Pedagang Kecil Dikeroyok di BKT Jakarta Timur, Polisi Sebut Tak Ada Toleransi Kepada Preman
Insiden tersebut kini resmi bergulir ke ranah hukum setelah masing-masing pihak menyampaikan versinya kepada publik dan aparat penegak hukum.
Menurut pengakuan Agus Saputra, keributan bermula dari ejekan seorang siswa yang dinilainya melampaui batas etika seorang murid kepada guru.
“Awalnya saya diejek dengan kata tak pantas, saya refleks menampar murid tersebut,” ujar Agus Saputra dikutip Minggu (18/1/2026).
Baca Juga:
Kasus Dua ‘Matel’ Tewas Dikeroyok, OJK Buka Suara
Reaksi spontan itu, kata Agus, justru memancing amarah siswa lain hingga berujung aksi pengeroyokan terhadap dirinya di area sekolah.
Versi berbeda datang dari salah satu siswa berinisial MUF yang menggambarkan sosok Agus sebagai guru dengan sikap keras dan tutur kata kasar di mata murid.
“Dia maunya dipanggil ‘prince’ atau pangeran, bukan bapak,” kata MUF.
MUF juga menyebut, perlakuan verbal keras kerap diterima siswa, terutama mereka yang dianggap bermasalah oleh guru tersebut.
“Sering ngomong kasar, menghina siswa dan orang tua, bilang bodoh dan miskin,” ujarnya.
MUF kemudian membeberkan kronologi versi siswa yang menyebut insiden terjadi saat kegiatan belajar mengajar hampir selesai dan suasana kelas mulai ribut.
“Saya bilang ke teman-teman, ‘Woi, diam’,” kata MUF.
Ucapan itu, menurut MUF, terdengar oleh Agus yang melintas di depan kelas hingga masuk tanpa izin guru yang sedang mengajar dan langsung menanyakan siapa yang mengucapkannya.
“Saya jawab, ‘Saya, Prince’, terus saya disuruh ke depan dan langsung ditampar,” ujarnya.
Situasi sempat mereda, namun ketegangan kembali memuncak ketika Agus disebut keluar dari kantor sekolah sambil membawa alat pemotong rumput dan mengejar para siswa.
“Kami sudah tenang di depan kantor, tapi dia keluar bawa sapit rumput dan ngejar kami,” kata MUF.
Keributan kembali pecah setelah para siswa meminta Agus meminta maaf karena merasa orang tua mereka dihina, namun permintaan itu tidak dipenuhi.
“Pas saya dekat ke muka dia, saya ditinju di hidung,” ujarnya.
MUF menegaskan, reaksi siswa lain terjadi secara spontan setelah insiden tersebut.
“Kalau tidak ditinju dulu, tidak akan ada pengeroyokan,” tegasnya.
Terpisah, Agus Saputra kembali menegaskan bahwa dirinya adalah korban pengeroyokan dan memilih menempuh jalur hukum atas peristiwa tersebut.
Didampingi kakaknya, Nasir, Agus melaporkan kasus itu ke Polda Jambi pada Kamis (15/1/2026).
“Adik saya dirugikan secara mental dan psikis, terlebih videonya viral di media sosial,” ujar Nasir.
Nasir juga mengungkapkan kondisi kesehatan Agus pascakejadian yang sempat mengeluh pusing.
“Adik saya sedikit pusing, kita bikin laporan dari jam empat sore,” katanya.
Selain itu, pihak keluarga telah mengantongi hasil visum sebagai bagian dari proses hukum yang sedang berjalan.
“Sudah ada visum dan ada bekas lebam,” ujarnya.
Hasil visum tersebut rencananya akan dijadikan barang bukti oleh kepolisian dalam menangani laporan dugaan pengeroyokan yang kini menjadi perhatian publik luas.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]