Ketua Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III, Dr Henri Togar Hasiholan Tambunan, menilai perguruan tinggi kini menghadapi tekanan besar untuk menghasilkan lulusan yang adaptif di tengah perubahan industri yang bergerak sangat cepat.
"Kemampuan menyesuaikan diri, bekerja sama, serta berpikir kritis menjadi kunci utama menghadapi perkembangan teknologi dan dinamika industri," kata Henri.
Baca Juga:
MK Tegaskan Jakarta Masih Jadi Ibu Kota RI hingga Ada Keppres Pemindahan
Ia menambahkan, mahasiswa saat ini tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik semata, melainkan harus dibekali pengalaman industri, riset, sertifikasi, hingga penguasaan teknologi agar mampu menjadi motor penggerak menuju target net zero emission.
Menjawab tantangan tersebut, Pejabat Sementara Rektor Universitas Pertamina, Profesor Doktor Techn, Djoko Triyono, mengatakan pihaknya secara strategis merancang sistem pendidikan yang mengintegrasikan teknologi digital, transisi energi, dan dekarbonisasi dengan dukungan ekosistem industri.
Pejabat Sementara Rektor Universitas Pertamina Prof. Dr. techn. Djoko Triyono memberikan sambutan dalam acara Wisuda ke-XIV Universitas Pertamina, di Gedung Sasana Kriya TMII,Senin (25/5/2026). [WAHANANEWS.CO / Adi Noor F / Pertamina University]
Baca Juga:
Mobil Listrik di Jakarta Tetap Bebas Pajak dan Ganjil Genap
Pada wisuda ke-14 kali ini, Universitas Pertamina melepas 223 lulusan dengan capaian akademik yang cukup mencolok. Sebanyak 46,64 persen lulus dengan predikat sangat memuaskan dan 33,18 persen berhasil meraih predikat cumlaude.
Menurut Djoko, konsep lulusan yang dibangun bukan sekadar sarjana biasa, tetapi sosok multitalenta yang mampu bergerak lintas disiplin.
"Predikat 'Sarjana' menandai penguasaan sains dan teknologi, namun gelar akademik ini baru sebuah awal. Falsafah 'Sujana' melengkapinya dengan kekuatan kompas moral agar ilmu para lulusan mampu menjadi jembatan kebaikan yang tulus serta inklusif bagi masyarakat," tutur Djoko.