Dalam sesi Induction Days, Novita juga berusaha mengubah pandangan mahasiswa mengenai peluang karier di dunia e-sports. Selama ini, menurut dia, sebagian masyarakat masih melihat industri tersebut sebatas profesi pemain profesional Mobile Legends: Bang Bang (MLBB).
Padahal, ekosistem e-sports membutuhkan banyak profesi lain yang bekerja di balik sebuah pertandingan maupun penyelenggaraan kompetisi.
Baca Juga:
Indobox Gelontorkan Rp5 Miliar, Bioskop Pertama Siap Ramaikan Kawasan IKN
“Orang tahunya e-sports itu MLBB, Mobile Legends. Tahunya pemain, main Mobile Legends, pro player, dan bagaimana menjadi pro player. Ternyata karier itu enggak hanya di situ saja,” tutur Novita.
Ia menjelaskan, industri e-sports membutuhkan berbagai keahlian, mulai dari coach, caster, manajemen acara, videografer, kameramen, hingga content creator.
“Kalau ada player, ada coach, kemudian juga ada caster. Di balik industri e-sports itu ada orang-orang yang bekerja untuk menyukseskan program, baik tim maupun event,” katanya.
Baca Juga:
PLN Siaga Penuh Kawal HUT ke-81 RI, 45 Ribu Personel Dikerahkan di 2.275 Titik
Menurut Novita, keberadaan profesi-profesi tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa dari berbagai latar belakang pendidikan memiliki peluang untuk masuk ke industri e-sports. Bahkan, tidak seluruhnya harus berasal dari program studi yang secara khusus berkaitan dengan gaming.
“Apapun bidang studi atau program studi yang sedang diambil, ternyata bisa menjadi bagian dari industri ini. Kalau menjadi player atau coach sulit, ternyata ada bidang lain yang bisa,” ujarnya.
Ia mencontohkan para praktisi yang dihadirkan dalam kegiatan tersebut memiliki latar belakang pendidikan yang beragam. Ada yang berasal dari bidang teknologi informasi, akuntansi, hingga bisnis, tetapi kemudian mampu membangun karier di industri e-sports.