SAYA sering sulit memahami, bagaimana caranya Denny JA bisa mencapai puncak prestasi di tujuh bidang berbeda. Itu tujuh samudra yang masing-masing punya arus, gelombang, dan badai yang tak sama.
Saya sudah mengenal Denny JA lebih dari 40 tahun, sejak sama-sama masih aktivis mahasiswa dan kuliah di UI. Saya di Jurusan Elektro FTUI, sedangkan Denny sempat kuliah di Arsitektur FTUI sebelum lalu pindah kuliah ke FHUI.
Baca Juga:
Kejagung Bantah "Tukar Guling" Kasus Minyak Mentah - Pengadaan Google Cloud Dengan KPK
Kami pernah berbalas tulisan di rubrik opini Harian Kompas pada 1980-an. Membaca pemikiran Denny dalam tulisan-tulisannya, waktu itu saya sempat berpikir bahwa suatu saat Denny akan sukses. Tetapi saya tak pernah menyangka bahwa tingkat kesuksesannya akan seperti sekarang ini.
Sejak dulu saya melihat Denny sebagai sosok yang penuh dengan semangat dan energi. Energi itu ternyata tetap berpijar saat ini.
Apa rahasianya? Dari mana datang energi yang seolah tak pernah habis itu, sehingga bisa meraih prestasi di tujuh bidang?
Baca Juga:
Uang Rp 300 M yang Dipamerkan KPK Ternyata Dana Rampasan Taspen
Baiklah, mari kita urut tujuh bidang tersebut.
Pertama, di dunia sastra. Ia baru saja menerima BRICS Award for Literary Innovation---sebuah penghargaan internasional tingkat tinggi, mungkin yang paling bergengsi yang pernah diraih sastrawan Indonesia di pentas Global South.
Di sini, ia bukan sekadar penulis; ia pemahat paradigma baru: puisi esai.