WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kementerian Agama terus memperkuat peran madrasah sebagai motor pendidikan Islam di Asia Tenggara melalui penyelenggaraan Forum Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) 2025.
"Forum MABIMS bukan acara seremonial, tetapi ruang strategis untuk menyatukan langkah. Madrasah harus tetap menjadi benteng nilai sekaligus pusat lahirnya inovasi," ujar Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Kemenag, Arskal Salim di Jakarta, Jumat (29/8/2025).
Baca Juga:
Aspirasi Terwujud, Warga Ucapkan Terima Kasih Kepada Anggota DPRD Tapteng Madayansyah Tambunan
Pernyataan Arskal ini disampaikan dalam Knowledge Sharing Best Practice Madrasah MABIMS yang digelar Direktorat Kurikulum Sarana Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Ditjen Pendidikan Islam (Pendis) di Serpong, Tangerang Selatan.
Empat negara anggota MABIMS berkumpul dalam forum ini untuk berbagi praktik baik sekaligus merumuskan strategi bersama menghadapi tantangan pendidikan global.
Dalam forum tersebut, Arskal mengatakan madrasah bukan sekadar institusi pendidikan, melainkan bagian dari perjalanan panjang bangsa.
Baca Juga:
Kakanwil Kemenag Sulut: Lebaran 1445 H Dirayakan Serentak oleh Ormas Islam
Menurutnya, transformasi madrasah kini bergerak makin progresif dengan pemanfaatan teknologi, kurikulum adaptif, hingga jejaring kerja sama lintas negara.
"Dari dinding kayu hingga layar digital interaktif, madrasah selalu menemukan cara untuk relevan dengan zamannya," ujarnya.
Agenda MABIMS 2025 juga diposisikan sejalan dengan program prioritas Menteri Agama RI 2025–2029. Ada tiga pilar yang kini menjadi arah besar pembaruan madrasah.
Pertama, ekoteologi yang mengintegrasikan kesadaran ekologis dengan nilai Islam dalam tata kelola pendidikan agar madrasah melahirkan generasi peduli bumi.
Kedua, cinta kemanusiaan yang berarti menumbuhkan empati, solidaritas, dan harmoni sosial lintas perbedaan.
Ketiga, madrasah unggul terintegrasi, yakni mengokohkan mutu pendidikan berbasis teknologi, karakter, dan tata kelola modern yang menyatu dari perencanaan hingga implementasi.
Arskal menegaskan ketiga pilar ini menjadi fondasi agar madrasah tak hanya menjaga tradisi keislaman moderat, tetapi juga tampil sebagai pusat inovasi yang siap bersaing di kancah global.
"Madrasah harus menjadi laboratorium masa depan, ramah lingkungan, humanis, unggul, dan terhubung dengan dunia," kata dia.
Delegasi Brunei Darussalam Hj Ernie Yusnani binti Hj Md Noor dari Jabatan Pengajian Islam KHEU, turut mengapresiasi penyelenggaraan forum ini.
Ia berharap kerja sama antarnegara MABIMS dapat melahirkan terobosan baru bagi pendidikan Islam di kawasan.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]