WAHANANEWS.CO, Jakarta - Fenomena lulusan sarjana bekerja di luar bidang studinya kian marak dan menjadi ironi di tengah tingginya angka partisipasi pendidikan tinggi.
Sering terjadi di dunia kerja, mahasiswa justru menekuni profesi yang tidak linear dengan jurusan kuliahnya, bahkan tak sedikit yang kesulitan memperoleh pekerjaan sesuai disiplin ilmu yang dipelajari selama bertahun-tahun di bangku perguruan tinggi.
Baca Juga:
Dear Calon Mahasiswa 2026, Ini Jurusan Kuliah dengan Prospek Kerja dan Gaji Tinggi
Istilah untuk kondisi tersebut dikenal sebagai underemployment, yakni ketidaksesuaian antara kualifikasi pendidikan dengan jenis pekerjaan yang dijalani, termasuk ketika lulusan S1 bekerja di posisi yang sebenarnya tidak mensyaratkan gelar sarjana.
Tak hanya terjadi di Indonesia, fenomena ini juga menjadi tantangan serius di tingkat global, termasuk di Amerika Serikat yang memiliki sistem pendidikan dan pasar kerja relatif mapan.
Berdasarkan survei O*NET dan laporan Federal Reserve Bank of New York yang dirilis dalam beberapa tahun terakhir, lebih dari separuh lulusan dari jurusan tertentu di Amerika Serikat bekerja di bidang yang tidak membutuhkan gelar akademik mereka.
Baca Juga:
Jurusan Kuliah Paling Disesali Lulusan di 2025, Jurnalistik di Posisi Teratas
“Lebih dari separuh lulusan dari jurusan tertentu terjebak dalam pekerjaan yang justru tak sesuai gelar akademiknya,” demikian temuan dalam laporan tersebut.
Fenomena ini menggambarkan situasi ketika lulusan S1 menerima pekerjaan yang sebenarnya bisa diisi oleh lulusan SMA karena terbatasnya lowongan yang benar-benar membutuhkan kualifikasi sarjana.
Disebutkan dalam laporan itu, hanya sekitar 50 persen lulusan baru dari sejumlah jurusan yang berhasil memperoleh college-level job pada tahun pertama setelah lulus.