WAHANANEWS.CO, Jakarta - Aktivitas warga Desa Pante Peusangan, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, perlahan kembali menggeliat pada awal pekan 2026.
Setelah beberapa hari diliputi gelap akibat terputusnya pasokan listrik pascabanjir, kehidupan masyarakat mulai berdenyut kembali.
Baca Juga:
Konsumsi Listrik SPKLU Melonjak Tajam Selama Siaga Nataru 2025/2026
Di bawah cahaya sore yang cerah, suara genset yang menyala dari halaman musala kecil berpadu dengan canda anak-anak yang kembali menikmati terang di malam hari.
Bantuan genset dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang disalurkan bersama PT PLN (Persero) menjadi penopang sementara kebutuhan listrik warga.
Kehadirannya memberi secercah harapan di tengah masa pemulihan, khususnya bagi desa-desa yang masih kesulitan dijangkau akibat kerusakan infrastruktur.
Baca Juga:
Awal 2026, PLN Hadirkan Promo Tambah Daya Diskon 50 Persen Lewat PLN Mobile
Bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh sebelumnya menyebabkan jaringan listrik terputus di berbagai titik.
Selain merendam permukiman, bencana juga merusak akses jalan, sehingga menyulitkan pengangkutan material dan peralatan kelistrikan.
Tim gabungan Kementerian ESDM dan PLN menembus akses sungai pascabanjir untuk mengawal pendistribusian bantuan genset ke wilayah terisolir di Aceh. Upaya ini menjadi bagian dari percepatan pemulihan kelistrikan bagi warga terdampak bencana.
Hingga kini, beberapa desa masih berada dalam kondisi terisolasi dan menunggu pemulihan jaringan secara permanen.
Menyikapi kondisi tersebut, Kementerian ESDM menyalurkan bantuan sebanyak 1.000 unit genset sebagai solusi sementara agar masyarakat tetap memperoleh listrik untuk kebutuhan dasar.
Di Desa Pante Peusangan, kehadiran genset disambut haru oleh warga. Nirwa, salah seorang warga setempat, tak mampu menahan tangis saat bantuan tersebut tiba dan siap digunakan untuk menerangi desanya.
Baginya, listrik bukan hanya soal penerangan, tetapi juga penunjang kehidupan sehari-hari di tengah situasi darurat.
“Alhamdulillah. Kami senang sekali. Terima kasih kepada Bapak Menteri ESDM dan PLN. Kami sangat senang menerima bantuan (genset) ini,” tuturnya dengan suara bergetar.
Rasa syukur juga disampaikan Pengurus Musala Dusun Tanoh Rata, Desa Pante Peusangan, Muhammad Lidan.
Ia mengungkapkan bahwa sebelum adanya genset, aktivitas ibadah warga pada malam hari sangat terbatas akibat minimnya penerangan.
Pengurus Musala Dusun Tanoh Rata, Desa Pante Peusangan, Kabupaten Bireuen, Muhammad Lidan menyalakan lampu musala setelah mendapatkan aliran listrik dari genset bantuan Kementerian ESDM.
“Semenjak ada masuk genset ini, alhamdulillah segala urusan (ibadah) bisa kita selesaikan. Lainnya adalah terkait penyebaran informasi, semuanya sudah terlaksana. Dan sekali lagi kami sebagai masyarakat sangat, sangat banyak berterima kasih,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Pante Peusangan, Samsudin, menuturkan bahwa genset menjadi sumber listrik utama warga sambil menunggu jaringan PLN kembali normal.
“Dengan adanya genset ini, masyarakat tetap mendapat penerangan sementara, sebelum jaringan instalasi listrik PLN dapat diselesaikan. Atas nama pemerintah desa dan masyarakat, kami mengucapkan terima kasih kepada Kementerian ESDM, PLN, dan semua pihak yang telah membantu,” katanya.
Kondisi serupa juga dirasakan warga Desa Riseh Tunong, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. Kepala Desa Riseh Tunong, Abdurrahman, mengatakan bantuan genset sangat membantu masyarakat di wilayahnya yang hingga kini masih belum sepenuhnya terjangkau jaringan listrik.
Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Eri Nurcahyanto (ketiga dari kiri) didampingi Direktur Distribusi PLN, Arsyadany Ghana Akmalaputri (kedua dari kanan) terjun langsung mengawal genset bantuan di salah satu warga terdampak banjir guna memastikan pasokan listrik darurat berjalan aman dan optimal.
“Genset ini kami manfaatkan untuk penerangan fasilitas umum, masjid, pesantren, hingga lokasi pengungsian. Alhamdulillah, sekarang penerangan bisa menyala dan masyarakat merasa lebih aman,” jelasnya.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa secara sistem kelistrikan, Aceh telah kembali terhubung.
Namun, kendala masih terjadi pada jaringan distribusi, terutama di wilayah dengan akses terbatas serta infrastruktur yang rusak atau masih tergenang air.
“Secara tegangan tinggi sudah terhubung, tetapi jaringan rendah masih ada yang belum bisa dimasuki karena akses dan infrastruktur. Atas arahan Bapak Presiden, kami bersama PLN mengoptimalkan kekuatan negara dengan menyalurkan 1.000 unit genset sebagai solusi sementara bagi masyarakat,” ujar Bahlil saat pelepasan bantuan 1.000 genset di Jakarta, Sabtu (27/12/2025) lalu.
Ia menambahkan, pendistribusian genset difokuskan ke daerah yang terdampak paling parah, seperti Kabupaten Aceh Tamiang, Bener Meriah, Aceh Utara, Aceh Tengah, Gayo Lues, serta sejumlah wilayah lainnya di Aceh.
Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menegaskan bahwa pemulihan jaringan listrik di wilayah terdampak bencana terus dipercepat, meskipun dihadapkan pada medan berat dan keterbatasan akses.
“Pemulihan infrastruktur kelistrikan di wilayah terdampak bencana menjadi prioritas utama PLN. Sejak awal kami bergerak bersama pemerintah daerah, TNI, dan Polri untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses listrik, baik melalui pemulihan jaringan maupun penyediaan sumber listrik sementara. Kami berkomitmen menghadirkan kembali layanan listrik secara bertahap dengan mengedepankan keselamatan dan keandalan, agar masyarakat dapat segera beraktivitas secara normal,” ujar Darmawan.
Hal senada disampaikan Direktur Distribusi PLN, Arsyadany Ghana Akmalaputri, yang turun langsung mengawal pendistribusian genset ke wilayah terdampak.
Ia menegaskan bahwa PLN terus mengerahkan personel dan berkoordinasi lintas sektor demi mempercepat pemulihan jaringan distribusi.
“Di tengah keterbatasan akses dan tantangan geografis, listrik menjadi denyut kehidupan yang harus tetap hadir bagi masyarakat. Bantuan genset dari Kementerian ESDM hadir sebagai jembatan sementara agar aktivitas warga, ibadah, layanan sosial, hingga komunikasi tetap berjalan. Sementara tim PLN terus bekerja di lapangan, berkoordinasi lintas sektor, dan memastikan setiap upaya pemulihan dilakukan secara bertahap hingga sistem kelistrikan benar-benar pulih dan kembali andal,” ujar Arsyadany.
Di tengah kondisi darurat dan tantangan geografis yang dihadapi, sinergi antara Kementerian ESDM, PLN, pemerintah daerah, serta berbagai pihak menjadi kunci pemulihan.
Kehadiran genset bukan hanya sebagai sumber listrik sementara, tetapi juga simbol kepedulian dan harapan, menjaga terang tetap menyala di rumah-rumah warga, fasilitas umum, hingga lokasi pengungsian, sembari menunggu Aceh pulih sepenuhnya dan aliran listrik kembali normal (Seremoadver).
[Redaktur: Ajat Sudrajat]