Pelemahan rial terhadap dolar AS secara langsung mendorong lonjakan harga barang dan jasa di dalam negeri.
Harga kebutuhan pokok seperti daging, beras, serta bahan pangan dan dapur lainnya dilaporkan melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Baca Juga:
Ditunjuk Pimpin Transisi Iran, Arafi Diterpa Rumor Tewas dalam Serangan Udara
Tekanan inflasi pun tak terbendung, dengan tingkat inflasi Iran tercatat mencapai 42 persen pada Desember 2025.
Kondisi ini turut menghantam sektor energi, termasuk harga bahan bakar minyak yang selama ini dikenal sangat murah berkat subsidi besar pemerintah.
Tekanan fiskal akibat nilai tukar yang terpuruk memaksa pemerintah Iran melakukan penyesuaian kebijakan subsidi BBM.
Baca Juga:
Fakta Mengejutkan, Pejabat Gedung Putih Akui Tak Ada Bukti Iran Akan Serang Duluan
Menurut laporan AP News, sejak Desember 2025 pemerintah Iran mulai menerapkan sistem harga bensin tiga tingkat sebagai upaya mengurangi beban subsidi negara.
Dalam kebijakan baru tersebut, setiap pengendara tetap memperoleh jatah 60 liter bensin per bulan dengan harga subsidi sebesar 15 ribu rial per liter.
Setelah kuota tersebut habis, pengendara masih dapat membeli tambahan hingga 100 liter dengan harga 30 ribu rial per liter.