WAHANANEWS.CO, Jakarta - BUMN sedang didorong naik kelas, bukan sekadar menjadi mesin laba negara, tetapi juga motor besar pembangunan nasional.
Kepala Badan Pengelola BUMN sekaligus Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan kontribusi BUMN terhadap negara selama ini sudah mencapai kisaran Rp600 triliun hingga Rp700 triliun setiap tahun.
Baca Juga:
Istana Jawab Tuntutan Demo Mahasiswa, Qodari Sebut Prabowo Justru Pangkas Pemborosan APBN
Pernyataan itu disampaikan Dony sebagaimana dikutip dari Badan Komunikasi Pemerintah RI, Jumat (12/6/2026).
"Kontribusi BUMN itu terhadap pendapatan negara, di luar dari laba plus pajak, itu kurang lebih hampir sekitar Rp600-700 triliun setiap tahun," ujarnya.
Dony menilai angka tersebut menunjukkan besarnya peran BUMN dalam menopang penerimaan dan aktivitas ekonomi nasional.
Baca Juga:
RUPS TOBA Setujui Dividen, Rights Issue, Buyback Saham, dan Susunan Pengurus Baru
"Jadi BUMN kita itu besar," kata Dony.
Namun, besarnya kontribusi tersebut belum membuat pemerintah berpuas diri.
Dony menjelaskan, BUMN masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan laba dan nilai ekonomi apabila proses penyehatan perusahaan berjalan lebih konsisten.
Menurut dia, sejumlah BUMN yang masih merugi menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan melalui konsolidasi, efisiensi, dan penataan ulang bisnis.
"Kalau yang rugi ini kita tutup, berarti untung kita menjadi Rp355 triliun," katanya.
Ia menegaskan bahwa BUMN secara keseluruhan tidak berada dalam posisi merugi, tetapi laba yang dihasilkan belum mencapai tingkat paling optimal.
"Jadi bisa disampaikan ke masyarakat, kita enggak rugi," ujar Dony.
Dony menyebut persoalan utama bukan terletak pada kemampuan BUMN menghasilkan keuntungan, melainkan pada bagaimana potensi itu dapat dimaksimalkan.
"Sudah pasti," katanya.
Ia menambahkan, pemerintah ingin memastikan seluruh perusahaan negara bergerak lebih efisien dan mampu memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.
"Tapi untungnya belum maksimal," ujar Dony.
Dalam konteks itu, kehadiran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau BPI Danantara dinilai menjadi instrumen penting untuk memperkuat kapasitas BUMN.
Dony mengatakan Presiden Prabowo Subianto berharap Danantara mampu membuat peran dan kontribusi BUMN menjadi jauh lebih besar.
"Makanya Presiden berharap dengan adanya Danantara ini jauh menjadi lebih besar lagi," ujarnya.
Menurut Dony, target untuk mendorong kontribusi BUMN menuju angka yang lebih tinggi bukan perkara mudah.
Ia menyebut target kontribusi hingga Rp800 triliun per tahun membutuhkan transformasi menyeluruh di tubuh perusahaan-perusahaan negara.
Meski tantangan yang dihadapi cukup besar, Dony menyatakan optimistis transformasi tersebut dapat dijalankan.
Optimisme itu didasarkan pada sejumlah langkah strategis yang tengah disiapkan dan dilakukan di lingkungan BUMN.
"Kita mengurangi dulu jumlah perusahaan kita," jelasnya.
Dony mengatakan penyederhanaan jumlah perusahaan menjadi salah satu cara untuk membuat BUMN lebih ramping, sehat, dan fokus.
"Kita melakukan konsolidasi dalam perusahaan kita," ujarnya.
Ia menyebut konsolidasi dibutuhkan agar struktur BUMN tidak terlalu gemuk dan mampu bekerja lebih efektif.
"Kita membangun roadmap yang baru," kata Dony.
Peta jalan baru itu disiapkan agar setiap perusahaan negara memiliki arah bisnis yang lebih jelas dan terukur.
"Kita membangun competitive advantage daripada perusahaan kita," jelasnya.
Selain penataan bisnis, Danantara juga menempatkan pengembangan sumber daya manusia sebagai prioritas penting.
Dony menilai BUMN tidak cukup hanya diperkuat dari sisi struktur, tetapi juga harus ditopang oleh talenta yang memenuhi standar kompetensi tinggi.
"Kita mengembangkan human capital-nya," ungkapnya.
Menurut dia, kualitas manusia menjadi faktor penting agar BUMN mampu bersaing dengan perusahaan besar di tingkat global.
"Termasuk juga kita sekarang men-standarisasi kualifikasi daripada orang yang menjadi Direktur BUMN," ujar Dony.
Ia menjelaskan, calon direksi BUMN ke depan harus melewati standar seleksi yang lebih ketat.
Standarisasi itu dinilai penting agar posisi strategis di perusahaan negara diisi oleh figur yang benar-benar memiliki kapasitas dan kompetensi.
"Kita tetapkan mereka harus melewati Basic Competency Assessment," tegasnya.
Dony menyebut transformasi BUMN yang sedang berjalan merupakan upaya fundamental untuk memperkuat tata kelola perusahaan negara.
Transformasi tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan efisiensi dan memperbesar kontribusi BUMN terhadap pembangunan nasional.
"Saya sangat optimistis bahwa kita bisa melakukan ini," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pembenahan BUMN harus dilakukan dengan keyakinan penuh dan komitmen jangka panjang.
"Dan dengan keyakinan penuh, kita akan membuat BUMN-BUMN kita menjadi lebih baik lagi," kata Dony.
Menurut dia, tidak ada ruang bagi BUMN untuk berhenti melakukan perubahan apabila ingin menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Tidak ada pilihan," ujarnya.
Dony juga menekankan bahwa transformasi tersebut bukan semata-mata soal capaian jangka pendek.
Ia ingin BUMN meninggalkan fondasi yang kuat bagi generasi berikutnya dan mampu menjadi penggerak ekonomi menuju Indonesia sebagai negara maju.
"Saya ingin sekali meninggalkan BUMN-BUMN kita dalam keadaan yang bagus," ujarnya.
Dony menegaskan keberhasilan Danantara bukan tentang pengakuan terhadap dirinya, melainkan tentang terwujudnya harapan besar masyarakat terhadap BUMN.
"Dan tidak perlu saya yang dikenang," katanya.
Ia menyebut Danantara diharapkan mampu menjadi jalan bagi BUMN untuk menjawab mimpi banyak rakyat Indonesia.
"Tetapi paling tidak Danantara berhasil untuk mewujudkan mimpi dan harapan banyak rakyat Indonesia," tutupnya.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]