WahanaNews.co, Salatiga - Inovasi teknologi tidak selalu lahir dari laboratorium besar atau kampus ternama. Di tengah kawasan industri Kota Salatiga, Jawa Tengah, sebuah perusahaan teknologi lokal membuktikan bahwa semangat belajar, kerja keras, dan keberanian bermimpi besar mampu melahirkan inovasi yang berdampak bagi industri nasional.
Perusahaan tersebut adalah Dtech Engineering, perusahaan riset dan manufaktur yang berdiri sejak 2009. Kini, Dtech dikenal sebagai salah satu pengembang dan produsen mesin Computer Numerical Control (CNC), teknologi yang menjadi tulang punggung industri manufaktur modern.
Baca Juga:
Mendag Budi Santoso Ajak UMKM Salatiga Manfaatkan Program Kemendag untuk Tembus Pasar Ekspor
Mesin CNC digunakan untuk memproduksi berbagai komponen presisi, mulai dari suku cadang kendaraan, peralatan industri, hingga berbagai produk manufaktur yang digunakan masyarakat sehari-hari.
Direktur Utama PT Dtech Inovasi Indonesia, Fajar Budi Laksono, mengatakan bahwa peran mesin CNC sangat vital dalam rantai produksi industri global.
“Kalau boleh dibilang, sembilan dari sepuluh produk manufaktur yang kita gunakan sehari-hari pasti melibatkan mesin CNC dalam proses pembuatannya. Karena itu, kami menyebutnya sebagai mother of machine,” ujar Fajar.
Berawal dari keterbatasan
Baca Juga:
Harga Patokan Ekspor Emas Turun 3,51 Persen pada Periode Kedua Juni 2026
Perjalanan Dtech Engineering tidak dibangun dalam kondisi yang mudah. Pendirinya, Arfian Fuadi bersama sang adik memulai usaha dari jasa desain keteknikan yang melayani klien luar negeri.
Di masa awal merintis usaha, keterbatasan modal menjadi tantangan utama. Arfian bahkan mencari klien menggunakan laptop hasil reparasi dan memanfaatkan akses internet gratis di sekitar kantor pos di Salatiga, tempat ia bekerja sebagai penjaga malam.
Berbekal kemampuan desain teknik, Dtech kemudian dipercaya mengerjakan berbagai proyek internasional. Perusahaan ini pernah terlibat dalam perancangan pesawat ultraringan untuk kebutuhan pertanian di Amerika Serikat serta mengembangkan desain pesawat listrik untuk misi ekspedisi di Kutub Utara.
Tidak hanya itu, Dtech juga berhasil memenangkan sejumlah kompetisi desain komponen pesawat tingkat internasional, mengungguli peserta dari berbagai negara, termasuk akademisi dan peneliti dari universitas-universitas ternama dunia.
“Waktu itu, kami hanya ingin membuktikan bahwa kemampuan insinyur Indonesia tidak kalah. Ternyata, kami justru menjadi juara pertama dan berhasil membuat desain komponen yang 84 persen lebih ringan dibanding desain konvensional,” kata Fajar.
Titik balik menuju industri manufaktur
Momentum penting bagi perusahaan terjadi pada 2018. Saat itu, tim Dtech mempelajari data indeks daya saing global yang menunjukkan bahwa kapasitas inovasi Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.
Hasil kajian tersebut menunjukkan bahwa negara dengan tingkat inovasi tinggi umumnya memiliki kapasitas manufaktur yang kuat, yang didukung oleh ketersediaan mesin CNC dalam jumlah besar. Negara-negara seperti Jerman, Amerika Serikat, dan Tiongkok menjadi contoh bagaimana penguasaan teknologi manufaktur berkontribusi terhadap daya saing industri dan kemampuan inovasi nasional.
Temuan tersebut mendorong Dtech Engineering untuk mengambil langkah strategis: mengembangkan mesin CNC buatan dalam negeri yang lebih terjangkau dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.
Menghadirkan CNC yang dekat dengan kebutuhan masyarakat
Berbeda dengan mesin CNC impor dari Jerman atau Jepang yang umumnya dibanderol mulai ratusan juta hingga miliaran rupiah, Dtech merancang mesin CNC yang dapat diakses oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekolah vokasi, hingga perguruan tinggi.
Tak hanya menawarkan harga yang lebih kompetitif, mesin tersebut juga dikembangkan menggunakan teknologi dan sistem kendali buatan sendiri. Antarmuka pengoperasiannya dirancang menggunakan bahasa Indonesia sehingga lebih mudah dipahami oleh pengguna lokal.
Menurut Fajar, pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem manufaktur nasional yang lebih inklusif.
“Kami sengaja membuat teknologi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Mesin harus bisa masuk pintu bengkel UMKM, bisa menggunakan listrik rumah tangga, mudah dirawat, dan menggunakan bahasa Indonesia,” jelasnya.
Melalui inovasi tersebut, Dtech Engineering berharap dapat memperluas akses terhadap teknologi manufaktur modern sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak inovator, teknisi, dan pelaku industri lokal yang mampu bersaing di tingkat global.
Dari sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Dtech Engineering menunjukkan bahwa kemandirian teknologi bukan sekadar cita-cita, melainkan sesuatu yang dapat diwujudkan melalui keberanian untuk berinovasi dan keyakinan bahwa kemampuan anak bangsa mampu berdiri sejajar dengan negara-negara maju.
[Redaktur: Jupriadi]