WahanaNews.co, Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui efek berganda yang dihasilkan dari aktivitas komunitas hobi. Menurutnya, segmen komunitas hobi yang bersifat niche justru menyimpan potensi ekonomi yang besar, terutama dalam mendukung pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Hal tersebut disampaikan Mendag Busan saat membuka “Festival Lomba Burung Berkicau dan Kuliner UMKM” hari ini, Minggu, (3/5) di lapangan parkir kantor Kementerian Perdagangan. Kegiatan tersebut bersifat mandiri tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (non-APBN), yang diiniasi Pelestari Burung Indonesia (PBI) bekerja sama dengan Komunitas Burung Kicau Kemendag (Kemendag Bird Club).
Baca Juga:
Makin Perkuat Struktur Perdagangan, Kemendag Dukung Implementasi KBLI 2025
“Kalau lomba burung berkicau semakin ramai, peternak burung akan semakin banyak. Begitu juga pembuat sangkar, produsen pakan, peternak jangkrik sebagai pakan burung, hingga pedagang burung. Kami mendorong peningkatan nilai ekonomi dari berbagai komunitas hobi, salah satunya komunitas burung kicau,” ujar Budi.
Ia menegaskan, burung yang dilombakan dalam festival tersebut merupakan burung hasil penangkaran, bukan burung liar. Melalui kegiatan ini, masyarakat juga diajak untuk menumbuhkan kesadaran dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Burung yang dilombakan bukan burung liar, melainkan hasil ternak,” katanya.
Baca Juga:
Penyegaran Layanan Bidang Perdagangan, Mendag Busan Lantik 22 Pejabat Kemendag
Budi mengungkapkan, nilai ekonomi dari perdagangan burung hias beserta ekosistemnya terus menunjukkan tren positif. Di dalam negeri, perputaran ekonomi dari ekosistem burung kicau diperkirakan mencapai Rp1,7 triliun hingga Rp2 triliun per tahun.
Ekosistem ini mencakup berbagai sektor, mulai dari penangkaran, produksi pakan dan suplemen, aksesori, hingga jasa pelatihan dan perawatan.
Sementara itu, nilai ekspor burung hias Indonesia pada 2025 tercatat sekitar Rp12,5 miliar, meningkat sekitar 237,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini menunjukkan tingginya permintaan pasar internasional terhadap burung hias asal Indonesia.
Selain membuka lomba, Budi juga meninjau langsung sejumlah stan UMKM yang hadir dalam acara tersebut. Beragam produk kuliner ditawarkan, mulai dari makanan khas daerah hingga minuman segar. Tak hanya itu, tersedia pula berbagai produk pendukung bagi pencinta burung, seperti kandang dan pakan berkualitas.
Ketua Umum PBI Pusat, Bagiya Rahmadi, menyampaikan bahwa aktivitas komunitas burung kicau tidak hanya terbatas pada jual beli dan kompetisi. PBI juga aktif dalam kegiatan pelestarian melalui pembinaan penangkar burung.
“Lomba burung bisa mengenalkan hasil produk penangkaran dan memberikan dampak multiefek bagi ekonomi komunitas,” ujarnya.
Salah satu peserta lomba, Ismanto, turut meramaikan acara dengan membawa murai batu medan miliknya. Ia mengaku tertarik memelihara jenis burung tersebut karena keunikan suaranya yang variatif, durasi kicauan yang panjang, serta kemampuannya menirukan suara burung lain.
Ismanto mengapresiasi penyelenggaraan lomba tersebut karena dinilai dapat memperluas pengetahuan masyarakat tentang hobi burung kicau sekaligus meningkatkan nilai ekonominya.
“UMKM bisa makin maju. Orang-orang jadi tahu ada berbagai jenis kandang buatan lokal dari Jepara, Solo, dan daerah lainnya,” kata Ismanto.
[Redaktur: Jupriadi]