WAHANANEWS.CO, Jakarta - CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) Rosan Roeslani membeberkan rencana pengelolaan Hotel Sultan, yang berada di Kawasan Blok 15 Kawasan Gelora Bung Karno (GBK). Kawasan ini dulunya menjadi sengketa karena perebutan hak pengelolaan antara pemerintah dengan perusahaan Pontjo Sutowo, PT Indobuildco.
Rosan menjelaskan bahwa rencananya pengelolaan Hotel Sultan dan Kawasan Blok 15 akan dikelola oleh perusahaan plat merah, baik Injourney maupun The Meru. Rencana itu akan dilakukan ketika persoalan sengketa sudah selesai di Kementerian Sekretariat Negara.
Baca Juga:
Hotel Sultan Dikosongkan, Barang Harus Dimbil PT Indobuildco Paling Lambat 6 Bulan ke Depan
"Ya tentunya pengelolaan kita akan bisa pakai Injourney, Meru. Merukan sangat baik ya. Mungkin itu rencananya," kata Rosan, kepada wartawan, di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin lalu dikutip Sabtu (27/6/2026).
Rosan menerangkan bahwa nantinya kawasan GBK termasuk Hotel Sultan akan menjadi ikon baru Indonesia, sehingga akan ada perombakan desain secara keseluruhan. Dia juga menyebut lapangan golf hingga area GBK yang total luasannya mencapai 200 hektare termasuk yang akan dikembangkan. Untuk itu tidak menutup kemungkinan Hotel yang didirikan dari tahun 70an itu akan dirobohkan.
"Ya pada saat ini mungkin saya belum bisa mengatakan, tapi rencana itu akan dijadikan suatu kawasan baru ya. Eventually iya (dirobohkan)," kata Rosan.
Baca Juga:
Soal Eksekusi Hotel Sultan, Ini Penjelasan Kuasa Hukum Kemensetneg
"Eventually ya," saat ditegaskan kembali.
Konsep besar sudah disiapkan pemerintah untuk kawasan ini. Rosan mengatakan, Presiden Prabowo menginginkan kawasan GBK ini menjadi ikon baru Indonesia, yang memberikan dampak nyata kepada perekonomian hingga rakyat Indonesia.
"Nanti di antaranya pastinya ada hotel juga ya, dan tidak satu. Tapi pesan Bapak Presiden ini dijadikan ikon baru untuk Indonesia, sehingga perencanaannya itu harus dilakukan secara komprehensif dan memberikan dampak yang nyata kepada perekonomian dan juga paling-paling penting kepada rakyat Indonesia," ungkapnya.
Dia menyebut bahwa konsep yang akan diusung kemungkinan adalah sport tourism, karena kegiatan olah raga yang sudah terbentuk di kawasan GBK. Hanya saja semua hal itu akan ditingkatkan.
"GBK ya tetap ada GBK-nya, tapi semuanya akan kita tingkatkan, kita sempurnakan menjadi standar internasional atau world class standard, sehingga ini juga bisa memberikan satu sentral ekonomi baru di Jakarta," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Pria yang menjabat sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM itu juga menegaskan bahwa potensi pariwisata di Indonesia sangat besar. Namun perlu, dikembangkan dari sisi kenyamanan, logistik, transportasi, aksesbilitas, kebersihan dan lainnya.
Untuk itu Danantara akan berperan aktif untuk melihat destinasi-destinasi baru untuk pariwisata. Terlebih saat ini, jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia masih kalah dari negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Singapura. Pemerintah juga berkeinginan untuk meningkatkan rerata pengeluaran wisatawan yang berada di Indonesia.
"Jadi kita bisa mengambil semua lapisan dari pariwisata yang lebih mass market, tapi juga yang high end atau yang lebih ke experience," tutupnya.
[Redaktur: Alpredo Gultom]