WahanaNews.co, Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat kerja sama internasional untuk mendukung percepatan transformasi industri nasional. Upaya tersebut dilakukan melalui partisipasi aktif Indonesia dalam BRICS Forum on Partnership on New Industrial Revolution (PartNIR) 2026, khususnya pada Sub-Forum on Industrial Intelligence and Technology Innovation yang berlangsung di Xiamen, Tiongkok.
Forum tersebut menjadi wadah strategis bagi negara-negara BRICS dan mitra untuk memperkuat kolaborasi di bidang teknologi industri, kecerdasan artifisial (AI), manufaktur cerdas, hingga inovasi digital berkelanjutan.
Baca Juga:
8-19 Juni 2026, Kemnaker Buka Pendaftaran Magang Nasional Tahap 2
Keikutsertaan Indonesia juga mencerminkan semakin aktifnya peran Indonesia dalam kerja sama BRICS guna memperluas akses industri, investasi, teknologi, serta memperkuat rantai pasok global.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, forum tersebut menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk mempercepat transformasi sektor industri melalui penerapan teknologi modern dan pengembangan industri hijau.
"Indonesia memandang momentum ini sebagai peluang strategis untuk mempercepat transformasi industri nasional melalui penguatan manufaktur cerdas, digitalisasi industri, dan pengembangan industri hijau yang inklusif dan berkelanjutan," ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Baca Juga:
Kemenperin Siapkan IKM Alat Makan Keramik Penuhi Sertifikasi Halal
Dalam sub-forum bertajuk Industrial Intelligence and Technology Innovation, para peserta membahas berbagai isu strategis, mulai dari penerapan kecerdasan artifisial, pemanfaatan big data, otomatisasi industri, manufaktur pintar, hingga pengembangan ekosistem inovasi digital di sektor industri.
Pembahasan tersebut dinilai sejalan dengan agenda transformasi industri nasional melalui peta jalan Making Indonesia 4.0 yang bertujuan mempercepat adopsi teknologi serta meningkatkan daya saing industri manufaktur Indonesia di tingkat global.
Pada forum yang digelar 28 Mei 2026 tersebut, Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Tri Supondy menegaskan bahwa kerja sama internasional menjadi faktor penting dalam mendorong transformasi industri nasional.
Menurut Tri, keterhubungan dengan mitra global dapat memperkuat inovasi, meningkatkan daya saing industri manufaktur dalam negeri, serta membangun ekosistem industri yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan dinamika ekonomi global.
"Sinergi antarnegara BRICS memiliki peran strategis agar transformasi industri dapat berjalan secara inklusif, tangguh, dan berkelanjutan. Kemenperin melihat potensi besar pengembangan kerja sama di bidang Artificial Intelligence, Internet of Things, Big Data, industrial robotics, hingga digital standardization untuk memperkuat keterhubungan industri di antara negara-negara BRICS," kata Tri.
Selain memperkuat kolaborasi teknologi, Kemenperin juga terus mendorong pengembangan startup industri dan ekosistem inovasi digital guna mendukung transformasi digital industri kecil dan menengah (IKM).
Menurut Kemenperin, harmonisasi standar digital serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia industri menjadi aspek penting untuk menghadapi era industri berbasis teknologi yang berkembang semakin cepat.
Sebagai bagian dari implementasi Making Indonesia 4.0, Kemenperin telah menjalankan berbagai program strategis, antara lain pendampingan transformasi digital industri, pengembangan pusat kapabilitas industri 4.0, hingga penguatan program pengembangan talenta industri.
Salah satu program unggulan yang terus diperluas adalah E-Smart IKM. Program tersebut telah membantu lebih dari 20.000 pelaku IKM memanfaatkan platform digital untuk mengembangkan usaha dan memperluas pemasaran produk mereka.
Melalui partisipasi dalam forum BRICS tersebut, Kemenperin berharap dapat memperluas peluang kerja sama internasional sekaligus mempercepat transformasi industri nasional menuju sektor manufaktur yang lebih modern, kompetitif, dan berkelanjutan.
Sumber: Kemenperin
[Redaktur: Jupriadi]