WahanaNews.co, Tangerang - Industri keramik nasional terus menunjukkan prospek yang positif dan semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu sektor manufaktur unggulan Indonesia. Didukung kapasitas produksi yang besar, pasar domestik yang luas, serta berbagai kebijakan pemerintah yang berpihak pada industri dalam negeri, Indonesia kini menargetkan masuk ke dalam empat besar produsen keramik dunia.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza mengatakan, industri keramik Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk mencapai target tersebut. Saat ini, kapasitas produksi terpasang industri keramik nasional mencapai sekitar 650 juta meter persegi per tahun dengan tingkat utilisasi sebesar 73 persen.
Selain itu, sektor ini juga menyerap lebih dari 150.000 tenaga kerja dan didukung oleh ketersediaan bahan baku yang melimpah.
Baca Juga:
Kemenperin Pastikan Insiden Pecah Pipa di PT MCCI Tak Ganggu Pasokan PTA Nasional
"Industri keramik nasional memiliki potensi besar untuk terus tumbuh dan meningkatkan posisinya dalam rantai pasok global. Dengan dukungan kapasitas produksi yang besar, sumber daya manusia yang kompeten, serta kebijakan pemerintah yang berpihak pada industri dalam negeri, kami optimistis Indonesia dapat masuk ke jajaran empat besar produsen keramik dunia," ujar Faisol saat membuka Pameran Keramika Expo Indonesia ke-11 di Tangerang, Banten, Kamis (4/6).
Menurut Faisol, saat ini Indonesia telah berada di jajaran lima besar produsen keramik dunia bersama China, India, Brasil, dan Vietnam. Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa industri keramik nasional semakin diperhitungkan dalam rantai pasok global.
Ia menilai, struktur industri yang kuat serta dukungan sumber daya domestik menjadi modal penting bagi Indonesia untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing di tingkat internasional.
Baca Juga:
8-19 Juni 2026, Kemnaker Buka Pendaftaran Magang Nasional Tahap 2
Kinerja industri keramik juga menunjukkan tren yang semakin positif. Pada Triwulan I 2026, subsektor industri barang galian bukan logam yang mencakup industri keramik tumbuh sebesar 9,12 persen.
Angka tersebut menempatkan subsektor tersebut sebagai salah satu dari tiga subsektor industri dengan pertumbuhan tertinggi pada periode tersebut.
"Pertumbuhan ini menempatkan subsektor industri barang galian bukan logam pada posisi ketiga tertinggi setelah industri mesin dan perlengkapan serta industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik. Ini menunjukkan bahwa industri keramik memiliki peran strategis dalam menopang pertumbuhan sektor manufaktur nasional," kata Faisol.
Lebih lanjut, Faisol menegaskan bahwa industri keramik memiliki peran penting dalam mendukung sektor riil, terutama properti dan konstruksi. Menurutnya, peningkatan pembangunan infrastruktur, perumahan, dan kawasan industri akan berdampak langsung terhadap kenaikan permintaan produk keramik nasional.
Di sisi lain, industri pengolahan masih menjadi penopang utama perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor industri pengolahan tumbuh 5,04 persen pada Triwulan I 2026, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 4,55 persen.
Kontribusi sektor ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional juga menjadi yang terbesar, yakni mencapai 19,07 persen atau senilai Rp1.179,62 triliun.
Selain itu, sektor industri pengolahan mencatat realisasi investasi sebesar Rp182,04 triliun atau setara 36,49 persen dari total investasi nasional. Sektor ini juga menyerap 20,04 juta tenaga kerja hingga Februari 2026 serta mendominasi ekspor nasional dengan kontribusi mencapai 82,25 persen atau senilai 54,98 miliar dollar AS sepanjang Januari hingga Maret 2026.
Faisol menambahkan, sejumlah indikator industri turut menunjukkan kondisi yang semakin membaik. Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Mei 2026 kembali berada di level ekspansif sebesar 50,0. Sementara itu, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) meningkat menjadi 53,56.
"Ini mencerminkan aktivitas industri yang terus bergerak positif dan optimisme pelaku usaha yang semakin kuat," tutup Faisol.
Sumber: Kemenperin
[Redaktur: Jupriadi]