WAHANANEWS.CO, Jakarta - Token listrik sering dituding lebih boros, padahal penyebab utamanya justru bisa datang dari kebiasaan pemakaian perangkat elektronik di rumah.
Layanan listrik rumah tangga di Indonesia umumnya terbagi dalam dua sistem, yakni listrik prabayar atau token listrik dan listrik pascabayar.
Baca Juga:
Kolaborasi PLN dan Polri Perkuat Keandalan Listrik, ALPERKLINAS: Kepentingan Masyarakat Harus Menjadi Prioritas
Keduanya memiliki perbedaan utama pada cara pembayaran, bukan pada cara listrik dihitung atau besaran energi yang digunakan pelanggan.
Listrik prabayar merupakan sistem yang mengharuskan pelanggan membeli token atau pulsa listrik terlebih dahulu sebelum energi listrik dapat digunakan.
Sementara itu, listrik pascabayar merupakan sistem konvensional yang memungkinkan pelanggan memakai listrik selama satu bulan lebih dulu, kemudian membayar tagihan berdasarkan pemakaian yang tercatat.
Baca Juga:
Khusus Untuk PLN, Tahun Ini Pemerintah Bakal Tambah Produksi Batu Bara
Meski sama-sama digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, listrik prabayar dan pascabayar masih kerap dibandingkan oleh masyarakat.
Salah satu anggapan yang sering muncul adalah token listrik dianggap lebih cepat habis dan lebih boros dibandingkan meteran pascabayar.
Pertanyaan tersebut kerap muncul di tengah masyarakat, terutama ketika pelanggan merasa nilai token yang dibeli tidak bertahan lama.