WahanaNews.co, Cilegon -
Kementerian Perdagangan (Kemendag) melepas ekspor produk fabrikasi baja struktural milik PT Trimitra Fabrikasi Engineering (TFE) ke Kanada dari Kota Cilegon, Banten, Selasa (23/6/2026). Nilai ekspor yang direalisasikan pada Juni 2026 tersebut mencapai 216.000 dollar AS atau setara sekitar Rp3,85 miliar.
Pelepasan ekspor dilakukan langsung oleh Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, di fasilitas produksi PT TFE di Cilegon. Menurut Puntodewi, ekspor yang dilakukan secara berkelanjutan ini menjadi bukti kemampuan industri manufaktur nasional dalam menghasilkan produk bernilai tambah tinggi yang mampu bersaing di pasar global.
Baca Juga:
Kemendag Perluas Akses Ekspor ke Pasar Nontradisional Lewat Business Networking dengan Lima Negara
“Ekspor hari ini menunjukkan kemampuan PT TFE dalam memenuhi kebutuhan pasar internasional dengan menjaga kualitas dan memenuhi standar global. Kemendag turut mendukung peningkatan kinerja ekspor produk-produk manufaktur bernilai tambah tinggi. Kami harap, pelepasan ekspor kali ini memotivasi lebih banyak pelaku usaha untuk semakin menggiatkan ekspor produk bernilai tambah,” ujar Puntodewi.
Ia menjelaskan, fabrikasi baja struktural merupakan salah satu produk manufaktur bernilai tambah tinggi karena melalui proses pengolahan, rekayasa, dan fabrikasi lanjutan. Proses tersebut menghasilkan produk dengan nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan bahan baku maupun produk baja setengah jadi.
Selain memberikan nilai tambah ekonomi, pengembangan ekspor produk fabrikasi baja juga dinilai sejalan dengan kebijakan hilirisasi industri nasional yang bertujuan meningkatkan daya saing industri, memperbesar nilai tambah domestik, serta memperkuat kontribusi sektor manufaktur terhadap ekspor Indonesia.
Baca Juga:
Mendag Apresiasi Inovasi Waralaba Lokal, Pak Gembus SPOT (+) Jadi Contoh Penguatan Daya Saing Kuliner
Data Kemendag menunjukkan, ekspor nonmigas Indonesia pada periode Januari–April 2026 mencapai 87,74 miliar dollar AS atau tumbuh 6,28 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 82,56 miliar dollar AS.
Sementara itu, nilai ekspor besi dan baja Indonesia pada Januari–April 2026 tercatat mencapai 9,61 miliar dollar AS. Khusus untuk produk fabrikasi baja struktural, nilai ekspornya mencapai 39,68 juta dollar AS pada periode yang sama.
“Khusus produk fabrikasi baja struktural, ekspor Indonesia tercatat sebesar 39,68 juta dollar AS pada Januari–April 2026. Komoditas tersebut juga mencatatkan tren pertumbuhan positif sebesar 6,08 persen dalam lima tahun terakhir, yakni periode 2021–2025,” kata Puntodewi.
Adapun sepanjang 2025, ekspor besi dan baja Indonesia tercatat mencapai 29,76 miliar dollar AS dengan tren peningkatan sebesar 5,61 persen dalam lima tahun terakhir.
Puntodewi menilai capaian tersebut menunjukkan peluang pasar global bagi produk fabrikasi baja Indonesia masih terbuka lebar. PT TFE menjadi salah satu perusahaan yang berhasil memanfaatkan peluang tersebut dengan memperluas jangkauan ekspornya ke berbagai negara.
Sepanjang semester pertama 2026, perusahaan tersebut telah mengekspor produk fabrikasi baja struktural ke sejumlah negara dengan total nilai mencapai 4,51 juta dollar AS atau sekitar Rp77,53 miliar.
Menurut Puntodewi, Kemendag juga telah memberikan fasilitasi kepada PT TFE untuk memperluas akses pasar ke kawasan Eropa dan Amerika pada Maret 2026. Upaya tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan perwakilan perdagangan Republik Indonesia di kedua kawasan guna menjajaki peluang kerja sama dengan calon pembeli potensial.
“PT TFE juga telah kami fasilitasi untuk memperluas akses pasar ke kawasan Eropa dan Amerika pada Maret 2026 lalu. Kami menghubungkan PT TFE dengan perwakilan perdagangan RI di kedua kawasan untuk memperluas akses pasar dan menjajaki peluang kerja sama dengan calon buyer potensial,” tutur Puntodewi.
Di sisi lain, Direktur Utama PT Trimitra Fabrikasi Engineering, Bobby Judoprawiro, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah dalam mendorong pengembangan industri manufaktur yang berorientasi ekspor.
Menurut Bobby, sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing produk Indonesia sekaligus membuka peluang pasar baru di tingkat global.
“Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas produk dan memperluas pasar ekspor demi berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional. Ekspor ini bukan akhir, melainkan awal dari langkah kami menuju pasar global yang lebih luas,” ujar Bobby.
[Redaktur: Jupriadi]