WAHANANEWS.CO, Jakarta - Polemik pembangunan bandara di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah, kembali meledak di ruang publik dan mendominasi perbincangan warganet karena banyak klaim beredar tanpa data yang jelas.
Merespons isu tersebut, Eks Komisaris Independen PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Dede Budhyarto memberikan penjelasan terbuka melalui akun X miliknya pada Rabu (27/11/2025) dengan menegaskan bahwa pembangunan kawasan IMIP bukan proyek yang muncul mendadak seperti anggapan sebagian orang.
Baca Juga:
Aster KASAU Marsekal Muda Palito Sitorus: Tak Ada Pesawat Asing Mendarat di Bandara Morowali
Dede menjelaskan bahwa fondasi kawasan industri itu telah diletakkan sejak 3 Oktober 2013 (03/10/2023) melalui penandatanganan kerja sama antara Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam Forum Bisnis Indonesia–Cina di Jakarta.
Setelah melalui proses konstruksi yang panjang, kawasan IMIP akhirnya diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 29 Mei 2015 (29/05/2015) yang sekaligus memperkuat kesinambungan kebijakan antara dua pemerintahan dalam mendorong hilirisasi dan penguatan industri nasional.
"Kesinambungan tersebut menunjukkan arah yang konsisten dan berkelanjutan dalam membangun pusat pertumbuhan industri skala besar, yang menjadi tulang punggung ekosistem mineral dan manufaktur di kawasan itu," ungkapnya.
Baca Juga:
Soal Bandara Diduga Ilegal di Morowali, Menkeu Purbaya Angkat Suara
Terkait isu pembangunan bandara IMIP, ia menyampaikan bahwa fasilitas tersebut sudah terdaftar secara resmi di Kementerian Perhubungan sehingga keberadaannya memang merupakan bagian integral dari pengembangan kawasan, bukan proyek yang muncul tiba-tiba.
Dede menambahkan bahwa pembangunan bandara adalah kelanjutan logis dari proses yang dimulai sejak era SBY dan dipacu kembali pada era Jokowi melalui penguatan infrastruktur pendukung, termasuk akses logistik dan mobilitas pekerja.
Dalam unggahannya, Dede menyindir pihak yang memanaskan polemik tanpa memahami kronologi pembangunan bandara IMIP dengan mengingatkan bahwa informasi dasar sebenarnya dapat ditemukan dengan mudah.
“Jadi lucu kalau ada yang tetiba muncul jadi komentator dadakan, sok paling tahu, padahal Google cuma sejauh satu ketukan,” tulisnya.
Ia menilai bahwa komentar yang digoreng tanpa data hanya membuat ruang publik semakin gaduh dan tidak membawa manfaat bagi pemahaman masyarakat.
“Ribut tanpa data itu hobi lama dan kebiasaan buruk yang tidak pernah selesai,” ujarnya.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]