WahanaNews.co, Sukoharjo - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR) 2 di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Minggu (14/6/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan infrastruktur pendidikan yang ditargetkan mulai beroperasi pada Tahun Ajaran Baru 2026/2027.
Saat meninjau langsung area proyek, Dody mendapat respons positif dari para pekerja yang tengah menyelesaikan pembangunan. Sejumlah pekerja bahkan menyampaikan komitmen mereka untuk menuntaskan pekerjaan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Baca Juga:
Dody Hanggodo Optimistis Pembangunan Sekolah Rakyat di Kota Subulussalam Segera Fungsional
"Kami selesaikan pekerjaan sesuai target," ujar para pekerja hampir bersamaan saat bertemu Menteri Dody.
Mendengar hal itu, Dody menyampaikan apresiasinya dan mengacungkan jempol kepada para pekerja yang masih bekerja hingga malam hari untuk menyelesaikan pembangunan gedung sekolah.
Dalam peninjauan tersebut, Dody mengungkapkan bahwa proyek Sekolah Rakyat di Sukoharjo kini telah masuk kategori "zona hijau" atau berjalan sesuai target. Padahal sebelumnya proyek sempat menghadapi kendala akibat kerusakan jalan desa yang digunakan sebagai akses kendaraan berat pengangkut material.
Baca Juga:
Dinsos Kaltim Penuhi Kuota 210 Peserta Didik Sekolah Rakyat Samarinda
"Hampir di semua lokasi yang menggunakan akses publik menghadapi persoalan serupa. Jalan desa atau kabupaten umumnya memang tidak dirancang untuk dilalui alat berat, sehingga kontraktor harus melakukan upaya tambahan, termasuk memperbaiki akses jalan yang digunakan," kata Dody.
Ia mencontohkan kondisi serupa juga terjadi di Brebes, di mana pelaksana proyek harus membangun jembatan bailey sementara agar distribusi material tidak mengganggu aktivitas masyarakat sekitar.
Secara nasional, Dody menyebut progres pembangunan Sekolah Rakyat telah mencapai rata-rata 78 persen. Fokus pemerintah saat ini adalah memastikan bangunan utama jenjang SD, SMP, dan SMA dapat digunakan pada pertengahan Juli mendatang.
"Kita optimistis minimal gedung SD, SMP, dan SMA sudah bisa digunakan saat tahun ajaran baru dimulai. Kalaupun belum selesai 100 persen, yang penting sudah fungsional untuk kegiatan belajar mengajar," ujarnya.
Dody juga mengungkapkan pendekatan yang biasa ia lakukan saat mengecek progres proyek. Alih-alih hanya melihat bagian depan bangunan, ia memilih langsung menuju area belakang untuk memastikan tidak ada persoalan yang luput dari perhatian.
"Saya biasanya langsung ke bagian belakang. Di situ biasanya terlihat kondisi sebenarnya dan masalah yang perlu segera diselesaikan," katanya.
Menurut Dody, tantangan pembangunan Sekolah Rakyat di Pulau Jawa dan luar Jawa memiliki karakteristik berbeda. Di wilayah Jawa, termasuk Sukoharjo, pekerjaan kini didominasi tahap arsitektural dan finishing yang membutuhkan ketelitian tinggi serta tenaga kerja terampil.
Sementara di luar Jawa, seperti Sumatera, Sulawesi, dan Maluku, tantangan utama lebih banyak terkait akses logistik dari pelabuhan atau bandara menuju lokasi pembangunan.
"Pemerintah terus mencari solusi untuk setiap kendala yang ada agar target penyelesaian akhir Juni dapat tercapai," tutur Dody.
Ia menegaskan bahwa pembangunan Sekolah Rakyat merupakan program prioritas yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto untuk memperluas akses pendidikan sekaligus memutus rantai kemiskinan ekstrem.
Sekolah Rakyat dirancang sebagai sekolah berasrama yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Seluruh kebutuhan pendidikan disediakan secara gratis, mulai dari asrama, seragam, perlengkapan sekolah hingga laptop.
"Sesuai arahan Presiden, pendidikan menjadi salah satu cara paling efektif untuk memutus kemiskinan. Anak-anak dari keluarga petani atau buruh memiliki kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan tinggi dan masa depan yang lebih baik," ujar Dody.
Sementara itu, Project Manager Sekolah Rakyat 2 Kabupaten Sukoharjo, Mochammad Safirul Kamil, mengatakan progres fisik pembangunan hingga 14 Juni 2026 telah mencapai 82,46 persen.
Menurut dia, pihaknya optimistis pekerjaan dapat selesai pada 20 Juni dan bangunan siap difungsikan mulai 1 Juli 2026.
Untuk mempercepat penyelesaian proyek, sebanyak 800 pekerja dikerahkan, terdiri atas 300 tenaga kerja lokal dan 500 tenaga kerja nonlokal. Mereka bekerja dalam tiga sif setiap hari, mulai pagi hingga tengah malam.
"Kami optimistis target penyelesaian bisa tercapai sehingga kegiatan belajar mengajar dapat segera dimulai sesuai jadwal," kata Safirul.
[Redaktur: Jupriadi]