WahanaNews.co, Jakarta - Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong penguatan ekosistem industri besi dan baja nasional agar makin tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Menurutnya, upaya tersebut perlu didukung kolaborasi yang erat antara
pemerintah, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan guna meningkatkan tata niaga serta
menjaga iklim usaha yang kondusif bagi industri baja dalam negeri, sehingga mampu tumbuh secara
sehat dan kompetitif di tengah dinamika perdagangan global.
Baca Juga:
Wamendag Tinjau Harga Bapok Jelang Imlek dan Ramadan, Pastikan Stabil
Demikian disampaikan Wamendag Roro saat memberikan pidato kunci dalam Musyawarah Nasional
(Munas) Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (The Indonesian Iron and Steel Industry
Association/IISIA) ke-5 Tahun 2026 yang mengusung tema “Peluang Strategis Industri Baja Indonesia
dalam Membangun Kedaulatan Ekosistem Industri Baja Nasional” di Jakarta, Rabu (11/2).
Turut mendampingi Wamendag Roro yaitu Kepala Pusat Kebijakan Ekspor Impor dan Pengamanan
Perdagangan Kementerian Perdagangan Bambang Jaka Setiawan.
“Kita harus bersinergi untuk memperkuat ekosistem industri besi dan baja nasional. Dengan
kolaborasi yang solid, kita dapat meningkatkan produksi, menjaga daya saing, serta memastikan
industri dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor,” ujar
Wamendag Roro.
Baca Juga:
Danrem 042/Gapu Pimpin Sertijab Dandim 0416/Bute, Tekankan perkuat kemanunggalan TNI dengan Rakyat
Wamendag Roro menambahkan, industri besi dan baja merupakan salah satu sektor strategis yang
berkontribusi signifikan terhadap kinerja perdagangan nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat
Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar USD 41,05 miliar pada
2025. Khusus untuk sektor besi dan baja (HS 72), surplus mencapai USD 18,44 miliar dengan nilai
ekspor sebesar USD 27,97 miliar dan impor USD 9,53 miliar.
Capaian tersebut, lanjut Wamendag Roro, menunjukkan peran penting industri besi dan baja dalam
menopang surplus nonmigas sekaligus memperkuat struktur industri nasional. Pada 2024, Indonesia
menempati peringkat ke-14 sebagai produsen baja mentah dunia dengan kapasitas produksi sekitar
18 juta ton, serta berada di peringkat ke-4 eksportir besi dan baja global dengan nilai ekspor sebesar
USD 25,8 miliar.
Meski demikian, kebutuhan konsumsi besi dan baja domestik terus bertambah, meningkat dari 11,4
juta ton pada 2015 menjadi 18,6 juta ton pada 2024, dan diproyeksikan mencapai 19,3 juta ton pada
2025. Kondisi tersebut membuka peluang bagi peningkatan kapasitas dan efisiensi produksi nasional, sekaligus menuntut pengelolaan perdagangan yang cermat agar kebutuhan industri dalam negeri tetap terpenuhi.
[Redaktur: Alpredo]