WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kekerasan bersenjata kembali mengguncang Libya setelah Saif Al Islam Khadafi, putra mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi, dilaporkan tewas ditembak di kediamannya di Kota Zintan.
Kematian Saif dikonfirmasi oleh pengacaranya Khaled Al Zaidi dan penasihatnya Abdullah Osman pada Selasa (3/2/2026), sebagaimana dikutip dari Anadolu Agency.
Baca Juga:
Libya Butuh Bertahun-tahun Cari 20 Ribu Korban Banjir yang Hilang
Peristiwa pembunuhan tersebut terjadi pada siang hari dan dilakukan oleh sekelompok orang bersenjata yang menyerbu rumah Saif.
Pembunuhan itu berlangsung cepat dan terencana, menurut keterangan pihak kuasa hukum Saif di Eropa.
“Dia dibunuh hari ini pukul 14.00 di Zintan di rumahnya oleh empat orang komando,” ucap pengacara Saif dari Prancis, Marcel Ceccaldi, kepada AFP.
Baca Juga:
Korban Tewas Banjir Libya Capai 11.300 Orang
Media-media lokal Libya melaporkan bahwa pelaku berjumlah empat orang tak dikenal yang langsung melancarkan serangan di dalam rumah korban.
Dalam laporan yang sama, disebutkan kamera pengawas di lokasi kejadian sengaja dinonaktifkan sebelum penyerangan dilakukan.
Saat ini, Kejaksaan Agung Libya telah membuka penyelidikan resmi untuk mengungkap motif dan pelaku pembunuhan tersebut.
Saif Al Islam Khadafi tidak pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan Libya.
Meski demikian, ia kerap dianggap sebagai orang nomor dua paling berpengaruh setelah ayahnya pada periode 2000 hingga 2011.
“Kami berjuang di sini di Libya, kami mati di sini di Libya,” kata Saif dalam wawancara media pada 2011.
Pada tahun yang sama, Saif ditangkap dan dipenjara di Zintan saat berupaya melarikan diri dari Libya setelah Tripoli jatuh ke tangan kelompok oposisi.
Ia kemudian dibebaskan pada 2017 sebagai bagian dari kebijakan pengampunan umum.
Sementara itu, Muammar Khadafi dikenal sebagai tokoh revolusi yang menggulingkan Raja Idris pada 1969.
Khadafi memimpin Libya sebagai Kepala Revolusioner Republik Arab Libya pada 1969–1977 dan berkuasa penuh sebagai pemimpin Libya pada 1977–2011.
Kekuasaannya berakhir setelah ia dikudeta dan tewas dalam konflik bersenjata yang melibatkan pasukan oposisi dengan dukungan NATO di tengah gelombang Arab Spring.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]