WAHANANEWS.CO, Jakarta - Amerika Serikat resmi mengumumkan pemberian bantuan senilai US$45 juta atau sekitar Rp757 miliar kepada Thailand dan Kamboja.
Bantuan tersebut ditujukan untuk memperkuat gencatan senjata yang dinilai masih rentan antara dua negara Asia Tenggara tersebut. Informasi ini dilaporkan oleh Channel News Asia (CNA).
Baca Juga:
Trump Tarik AS dari 66 Organisasi Internasional dalam Satu Dekrit
Pengumuman bantuan disampaikan pada Jumat, 9 Januari 2026, oleh Michael DeSombre, pejabat tertinggi Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk kawasan Asia Timur.
Dalam kunjungannya ke Thailand dan Kamboja, DeSombre melakukan serangkaian pertemuan guna membahas langkah konkret dalam menjaga dan memperkuat implementasi gencatan senjata.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut ingin menjadikan gencatan senjata antara Thailand dan Kamboja sebagai salah satu capaian penting kebijakan luar negeri pemerintahannya.
Baca Juga:
Penarikan AS dari Badan PBB Tuai Respons Keras Sekjen PBB
Dari total dana bantuan tersebut, US$20 juta (Rp336,9 miliar) dialokasikan secara khusus untuk mendukung upaya pemberantasan narkoba serta penanggulangan kejahatan penipuan siber di Kamboja.
Selain itu, US$15 juta (Rp252,6 miliar) akan digunakan untuk membantu masyarakat sipil yang terpaksa mengungsi akibat bentrokan bersenjata yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Sementara US$10 juta (Rp168,4 miliar) lainnya diperuntukkan bagi program pembersihan ranjau darat di wilayah terdampak konflik.
DeSombre menegaskan bahwa Amerika Serikat berkomitmen untuk terus mendukung pemerintah Thailand dan Kamboja dalam melaksanakan Kesepakatan Perdamaian Kuala Lumpur.
Kesepakatan tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam membuka jalan menuju perdamaian berkelanjutan, kemakmuran ekonomi, serta stabilitas keamanan kawasan.
Kesepakatan damai itu ditandatangani pada Oktober tahun lalu di hadapan Presiden Trump, bertepatan dengan masa kepemimpinan Malaysia sebagai ketua ASEAN.
Meski demikian, bentrokan besar kembali pecah bulan lalu sebelum akhirnya kedua pihak menyepakati gencatan senjata pada 27 Desember, setelah pertempuran berlangsung selama sekitar tiga pekan.
Pasca-gencatan senjata, Thailand menuduh Kamboja telah melanggar kesepakatan tersebut dalam sebuah insiden tembakan yang diklaim tidak disengaja.
Di sisi lain, Kamboja meminta Thailand menarik pasukannya dari sejumlah wilayah perbatasan yang diklaim sebagai bagian dari kedaulatan negaranya.
Konflik antara Thailand dan Kamboja sendiri telah berlangsung lama dan berakar dari sengketa penetapan batas wilayah peninggalan era kolonial di sepanjang perbatasan sepanjang kurang lebih 800 kilometer.
Perselisihan juga diperparah oleh klaim kedua negara atas reruntuhan kuil kuno berusia ratusan tahun yang berada di wilayah perbatasan.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]