WAHANANEWS.CO, Jakarta - Berlin dibuat waspada setelah wabah ulat bulu beracun menyebar ke taman, jalur pejalan kaki, fasilitas olahraga, hingga kawasan pemukiman warga.
Serangan hama tersebut melanda Ibu Kota Jerman pada musim panas 2026 dan memaksa otoritas setempat menutup sejumlah area publik yang dinilai berisiko bagi masyarakat.
Baca Juga:
Viral Dugaan Pesta Sesama Jenis, THM di Karawang Langsung Disegel Satpol PP
Mengutip Rusia Today, ulat yang menyerang Berlin merupakan ulat prosesi ek atau oak processionary caterpillar yang dikenal sebagai hama pemakan daun pohon ek.
Jenis ulat ini berbahaya bukan karena gigitannya, melainkan karena bulu-bulu halus beracun yang dapat memicu gangguan kesehatan serius pada manusia.
Pihak berwenang bersama pengelola taman telah mengeluarkan peringatan di Berlin dan Potsdam pada Senin (08/06/2026).
Baca Juga:
Bupati Muara Enim Edison Terseret OTT KPK, Dugaan Duit Proyek Pendidikan Mulai Terbongkar
Area yang terinfeksi ditutup secara ketat, sementara sejumlah fasilitas olahraga dan jalur pejalan kaki untuk sementara tidak bisa digunakan warga.
“Wilayah yang mengalami dampak paling parah adalah Charlottenburg-Wilmersdorf dan Treptow-Köpenick,” ujar laporan tersebut.
Laporan itu menyebut Distrik Steglitz-Zehlendorf dan Spandau juga menghadapi kondisi serupa karena wilayah tersebut memiliki banyak jalan dan taman yang dipenuhi pohon ek.
“Distrik Steglitz-Zehlendorf dan Spandau juga mengalami kondisi serupa,” ujar laporan itu.
Sebaran hama tersebut tidak hanya terjadi di ruang terbuka hijau, tetapi juga mulai masuk ke kawasan tempat tinggal warga.
Mengutip harian B.Z., ulat beracun itu telah menyebar ke seluruh kawasan perumahan Jungfernheide yang dihuni lebih dari 11.000 warga.
Ulat tersebut dilaporkan merayap di dinding bangunan, menempel pada mobil warga, hingga menginfeksi kusen pintu, pagar pembatas, dan tiang lampu.
Secara ilmiah, hama ini dikenal sebagai Thaumetopoea processionea dan biasanya muncul antara Mei hingga Juli.
Ngengat dewasa dari spesies tersebut sebenarnya tidak berbahaya bagi manusia.
Bahaya utama justru muncul pada fase ulat karena tubuhnya memiliki ratusan ribu bulu beracun berukuran mikroskopis.
Bulu beracun itu dapat terlepas dan terbawa angin hingga sejauh 200 meter.
Paparan bulu ulat prosesi ek dapat menyebabkan ruam kulit, iritasi mata parah, serta gangguan pada saluran pernapasan.
Dalam kasus berat, paparan tersebut bisa memicu reaksi alergi fatal hingga syok anafilaksis.
Serangan ulat prosesi ek sebenarnya bukan persoalan baru bagi Berlin karena hama tersebut telah menyebar selama bertahun-tahun.
Namun, sejumlah pejabat setempat menyebut beberapa distrik mengalami lonjakan jumlah pohon yang terserang pada musim panas 2026.
Kondisi ini memicu kritik dari para politisi lokal terhadap buruknya koordinasi antarinstansi pemerintah dalam menangani wabah tersebut.
Lembaga kesehatan setempat disebut memiliki kewenangan yang sangat terbatas untuk melakukan intervensi langsung.
Keterbatasan itu terjadi karena ulat prosesi ek diklasifikasikan sebagai zat pemicu alergi, bukan sebagai hama kesehatan masyarakat.
Pada saat yang sama, aturan perlindungan tanaman juga membatasi penggunaan biosida tertentu untuk membasmi ulat tersebut.
Para kritikus mendesak otoritas distrik, Senat Berlin, dan perusahaan perumahan mengambil langkah yang lebih terkoordinasi.
Mereka meminta perawatan pohon ek dilakukan lebih awal sebelum wabah semakin meluas.
Pembersihan sarang ulat juga didorong agar dilakukan secara lebih agresif di area yang sudah terinfeksi.
Warga yang frustrasi dengan kondisi tersebut akhirnya meluncurkan petisi online.
Petisi itu menuntut adanya rencana perlindungan yang mengikat untuk wilayah Jungfernheide.
Gerakan warga tersebut telah mengumpulkan lebih dari 4.500 tanda tangan.
Pada 2025, Departemen Senat Berlin untuk Lingkungan mencatat 5.032 pohon ek telah terinfeksi ulat prosesi ek.
Ribuan pohon yang terinfeksi itu tersebar di 881 lokasi di seluruh penjuru kota.
Para ahli memperingatkan wabah ini berpotensi memburuk apabila kondisi cuaca tetap hangat dan kering.
Cuaca seperti itu dinilai sangat mendukung penyebaran ulat prosesi ek di Berlin dan wilayah lain di Eropa.
Badan prakiraan cuaca memperkirakan musim panas 2026 di Jerman dan Eropa Tengah akan lebih panas serta lebih kering dibanding rata-rata.
Ancaman ulat prosesi ek tidak hanya terjadi di Jerman.
Hama berbahaya ini telah menetap di sebagian besar wilayah Eropa, mulai dari Belanda, Prancis, Denmark, hingga kawasan Laut Tengah.
Spesies tersebut juga masuk secara tidak sengaja ke Inggris pada 2006.
Saat ini, ulat prosesi ek telah menetap di London Raya dan sebagian wilayah Inggris bagian tenggara.
Penyebaran itu membuat pemerintah Inggris mengeluarkan peringatan resmi pada Sabtu (06/06/2026).
Pemerintah Inggris mengimbau masyarakat agar tidak menyentuh serangga tersebut maupun sarangnya karena risiko kesehatan yang ditimbulkan bisa sangat serius.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]